Usai Isu Eksploitasi WNI, Taiwan Masih Kaji Program Beasiswa

CNN Indonesia | Kamis, 25/04/2019 16:40 WIB
Usai Isu Eksploitasi WNI, Taiwan Masih Kaji Program Beasiswa Perwakilan TETO di Indonesia, John Chung Chen, mengatakan bahwa pemerintahnya tengah melakukan kajian ulang terhadap program kuliah-magang setelah timbul dugaan eksploitasi mahasiswa Indonesia yang mengikuti beasiswa tersebut. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Taiwan masih terus melakukan kajian ulang terhadap program kuliah-magang setelah timbul dugaan eksploitasi mahasiswa Indonesia yang mengikuti beasiswa tersebut.

"Sampai saat ini, kami masih melakukan kajian ulang dan mencari cara terbaik untuk menjalankan program tersebut," ujar Perwakilan Kantor Dagang dan Ekonomi Taiwan (TETO) di Jakarta, John Chung Chen, saat berkunjung ke kantor CNN Indonesia, Kamis (25/4).
Chen menjelaskan bahwa program ini sebenarnya sangat baik. Para mahasiswa peserta dapat kuliah dua hari dalam seminggu, kemudian tiga hari setelahnya mereka bisa magang di perusahaan dengan reputasi baik di Taiwan.

Namun, masalah muncul ketika banyak agen memanfaatkan program ini untuk menipu para mahasiswa.


"Ada beberapa universitas yang malas sehingga menyewa agen untuk mencari calon mahasiswa yang mau mengikuti program ini," tutur Chen.

Para agen ini menawarkan beberapa hal yang tak sesuai dengan kenyataan hingga muncul pemberitaan mengenai dugaan eksploitasi.
Untuk menanggulangi masalah ini, pemerintah Taiwan akhirnya memutuskan untuk melarang mahasiswa Indonesia mendaftar lewat agen.

"Agen ini ada yang dari Indonesia dan Taiwan. Kami menegaskan bahwa mahasiswa tak bisa lagi mendaftar lewat agen," kata Chen.

Pernyataan itu diutarakan Chen menyusul laporan yang menyebut bahwa 300 mahasiswa Indonesia program kuliah-magang di Universitas Hsing Wu diduga menjadi korban eksploitasi. Mereka dikabarkan dipekerjakan melebihi jam seharusnya.
Sebelumnya, Chen sudah membantah tudingan tersebut. Berdasarkan investigasi langsung sejumlah pejabatnya, para mahasiswa RI di kampus tersebut mengaku tak mengalami eksploitasi.

"Menurut para mahasiswa Indonesia yang diwawancara, pengaturan kuliah-magang sudah sesuai dengan peraturan dan Undang-Undang Ketenagakerjaan Taiwan," kata Chen.

"Mereka (pelajar RI) juga membantah bahwa telah mengalami eksploitasi oleh kampus dalam program kuliah-magang tersebut."
Namun, Chen mengakui bahwa ada kekurangan dalam program yang baru berjalan dua tahun ini. Pemerintah Indonesia sendiri sudah meminta Taiwan untuk menghentikan sementara program kuliah-magang ini selagi pemerintah setempat memperbaiki regulasinya.

"Sampai sekarang masih belum digelar kembali. Namun, kami berharap dapat dilanjutkan secepatnya karena sebenarnya program ini sangat baik," katanya. (has/has)