Trump Tak Usul Solusi Dua Negara di Proposal Damai Palestina

CNN Indonesia | Jumat, 03/05/2019 13:44 WIB
Trump Tak Usul Solusi Dua Negara di Proposal Damai Palestina Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tak mencantumkan usulan solusi dua negara dalam proposal perdamaian Palestina-Israel gagasannya. (Reuters/Joshua Roberts)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tidak mencantumkan usulan solusi dua negara dalam proposal perdamaian Palestina-Israel gagasannya.

"Jika Anda mengatakan 'dua negara', itu berarti satu hal bagi Israel, itu berati satu hal bagi Palestina," kata Penasihat Gedung Putih yang juga merupakan menantu Trump, Jared Kushner, Kamis (2/5).

"Kami katakan mari kita jangan sertakan itu. Mari kita kerjakan saja perinciannya terkait apa artinya ini semua," katanya melanjutkan.


Selama ini, solusi dua negara dianggap komunitas internasional sebagai jalan keluar paling baik untuk mendamaikan Israel-Palestina yang telah berkonflik selama lebih dari setengah abad itu.
Kushner mengindikasikan proposal perdamaian yang telah lama dinanti itu akan mengambil pendekatan baru.

Ia menolak untuk menjelaskan lebih detail terkait proposal itu. Namun, ia menekankan proposal tersebut akan menegaskan status akhir warga Israel dan Palestina.

"Itu benar, kami akan melakukannya," kata Kushner seperti dikutip AFP.
Sebelumnya, Kushner mengatakan proposal itu kemungkinan akan dipublikasikan sekitar awal Juni, setelah bulan Ramadan selesai.

Pemerintah Palestina sendiri sudah berulang kali menegaskan tidak akan menerima mediasi apa pun dari AS seputar penyelesaian konfliknya dengan Israel.

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, juga menegaskan tidak akan menyetujui proposal damai gagasan Trump.

Palestina menganggap AS bersikap bias, terutama setelah mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel pada Desember 2017 lalu. 
Kota suci bagi tiga agama itu telah lama menjadi sumber konflik Palestina-Israel, di mana keduanya sama-sama mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota mereka.

Kushner mengaku Trump sempat berkonsultasi dengan dia mengenai pengaruh pengakuan status Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel atas prospek damai di Timur Tengah.

"Jawaban yang saya berikan kepadanya adalah saya pikir jangka pendek mungkin akan lebih sulit karena orang cenderung lebih reaktif dan emosional," ucap Kushner.

"Tapi untuk jangka panjang saya pikir keputusan itu akan membantu karena apa yang kita perlukan adalah memulai untuk mengakui kebenaran. Saya pikir saat kami mengakui Yerusalem, itu adalah benar bahwa kota tersebut merupakan Ibu Kota Israel, dan bagaimana pun ini akan menjadi bagian dari setiap kesepakatan," katanya lagi.

[Gambas:Video CNN]

Kushner mengaku dia dan timnya telah berbicara dengan pengusaha dan sejumlah warga Palestina. Ia meyakini proposal gagasan mertuanya itu "akan sangat diterima" oleh bangsa Palestina.

"Sangat menyedihkan bagi kami melihat kepemimpinan Palestina pada dasarnya telah menyerang sebuah rencana damai ketika mereka tidak tahu seperti apa isinya," tutur Kushner.

"Jika mereka benar-benar peduli untuk membuat kehidupan rakyat Palestina lebih baik, saya pikir mereka akan mengambil keputusan yang berbeda selama 20 tahun terakhir ini."

Kushner mengatakan "pendekatan kami adalah, jika kami akan gagal, kami tidak ingin gagal lagi karena melakukan cara yang sama seperti masa lalu." (rds/has)