Polemik Pakta Nuklir Iran: Optimisme yang Terancam Kandas

CNN Indonesia | Kamis, 09/05/2019 14:21 WIB
Polemik Pakta Nuklir Iran: Optimisme yang Terancam Kandas Ilustrasi peluru kendali Iran. (REUTERS/sepahnews.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nasib perjanjian nuklir Iran 2015 semakin terancam kelanjutannya setelah Presiden Hassan Rouhani mengancam akan melanjutkan kembali pengayaan uranium dan program nuklirnya. Keputusan Rouhani dianggap sebagai konsekuensi dari akumulasi kekecewaan terhadap sikap Amerika Serikat belakangan ini, yang menurut Iran melenceng dari kesepakatan awal perjanjian yang dikenal dengan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Kemelut dimulai saat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan keluar dari perjanjian nuklir ini pada 8 Mei 2018. Selain itu, Trump juga kembali menjatuhkan serangkaian sanksi kepada Iran yang sebelumnya ditangguhkan menyusul disepakatinya perjanjian JCPOA.

Padahal, perjanjian JCPOA yang ditekan pada 14 Juli 2015 bisa disebut terobosan paling signifikan sejak era Perang Dingin, terutama dalam hubungan AS-Iran. AS bersama Prancis, Inggris, Rusia, China, Jerman, (P5+1) dan Uni Eropa berhasil menggiring Iran ke meja perundingan untuk menyetop program nuklirnya yang dianggap mengancam.


Ide perjanjian nuklir Iran mulai digagas sejak 2012 lalu, setelah relasi Iran dengan negara Barat terus memanas karena Teheran diduga terus mengembangkan senjata nuklirnya dalam beberapa tahun sebelumnya.
Saat itu, Iran berkeras program nuklir yang dibangun bersifat defensif dan damai. Sekitar April 2012, Iran mulai bersedia bertemu dengan AS, Perancis, Inggris, Rusia, China, Jerman, dan Uni Eropa di Istanbul untuk membicarakan masalah program nuklirnya.

Negara-negara tersebut juga kembali melangsungkan beberapa kali pertemuan di Baghdad dan Moskow dalam tahun yang sama guna mendiskusikan proposal masing-masing pihak terkait kesepakatan nuklir.
Polemik Pakta Nuklir Iran: Optimisme yang Terancam KandasPresiden Iran, Hassan Rouhani. (REUTERS/Alessandro Bianchi)
Iran semakin terbuka terkait negosiasi JCPOA ketika Rouhani menang dalam pemilihan presiden pada enam tahun lalu. Tiga hari setelah pelantikannya, Rouhani meminta negosiasi nuklir kembali dilakukan serius dengan negara P5+1 dan Uni Eropa terkait program nuklir Iran.

Pada 7 September 2013, Presiden AS saat itu, Barack Obama bahkan berkomunikasi langsung dengan Rouhani melalui sambungan telepon guna mendiskusikan perjanjian nuklir tersebut. Sambungan telepon antara keduanya merupakan interaksi langsung perdana antara pemimpin AS-Iran sejak 1979.
Sekitar November 2013, Iran bersama negara P5+1 dan Uni Eropa menyepakati perjanjian Plan of Action yang menjadi kerangka dasar JCPOA di Jenewa. Sejak itu, negara-negara tersebut terus melakukan negosiasi hingga akhirnya sepakat menyetujui kerangka dasar JCPOA pada April 2015.

Pada 14 Juli 2015, Iran dan negara P5+1 menyatakan bahwa perjanjian nuklir telah disepakati dan Teheran siap mengikuti aturan Badan Atom Internasional (IAEA) untuk secara perlahan menutup situs pengembangan nuklir dan menyetop pengayaan uranium.

Sejak itu, Iran berangsur-angsur menutup dan menyetop pengayaan uraniumnya. Teheran juga disebut mematuhi kewajiban yang tertera dalam JCPOA.

Sebagai imbalan, negara P5+1, Uni Eropa, dan komunitas internasional mulai mencabut sanksi ekonomi dan embargo minyak terhadap Iran. Namun, JCPOA mulai terancam ketika Trump resmi menjabat di Gedung Putih setelah memenangkan pilpres 2016 lalu.
Saat kampanye, Trump telah memaparkan kebijakan kerasnya terhadap Iran. Ia bahkan menganggap perjanjian nuklir Iran merupakan kesepakatan terburuk yang pernah dibuat AS.

Hingga pada 8 Mei 2018, Trump memutuskan menarik AS keluar dari JCPOA dengan menganggap Iran tak mematuhi kesepakatan itu dengan menuduh Teheran masih mengembangkan senjata nuklir.

Tak hanya menarik diri, Trump juga bersumpah menjatuhkan kembali sanksi-sanksi yang pernah berlaku terhadap Iran.

Trump juga memperingatkan sekutu-sekutunya untuk berhenti membeli minyak dari Iran dan menyudahi seluruh hubungan dagang serta investasi di negara Timur Tengah tersebut.
Meski begitu, negara-negara lain yang turut meneken JCPOA masih berkomitmen mempertahankan perjanjian nuklir tersebut.

Akan tetapi, hal itu tidak bisa membuat Rouhani tetap bersabar. Dia menuturkan Iran berencana melanjutkan program nuklir dan pengayaan uraniumnya jika pihak-pihak penandatangan kesepakatan nuklir 2015 tak membela Teheran dari sanksi sepihak AS. (rds/ayp)