Rusia Kecam Sanksi Baru AS, Trump Buka Peluang Bertemu Iran

CNN Indonesia | Jumat, 10/05/2019 00:49 WIB
Rusia Kecam Sanksi Baru AS, Trump Buka Peluang Bertemu Iran Donald Trump buka peluang ketemu petinggi Iran soal sanksi baru. (REUTERS/Leah Millis)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rusia mengecam sanksi baru Amerika Serikat (AS) terhadap industri pertambangan dan baja Iran. Rusia menyerukan agar AS segera menggelar dialog soal kesepakatan nuklir dengan Iran.

"Amerika Serikat baru saja memperkenalkan paket sanksi baru yang mempengaruhi industri pertambangan di Iran. Kami sangat mengutuk langkah ini," tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia, mengutip AFP, Kamis (9/5).

Rusia juga meminta negara-negara yang lain yang ikut terlibat dalam kesepakatan nuklir untuk bisa menormalisasi situasi dalam menyikapi AS dan Iran.


Rusia mengaku mafhum atas sikap Iran yang memutuskan untuk menangguhkan beberapa komitmennya soal nuklir. Menurut Rusia, negeri para mullah tersebut hanya meminta negara yang terlibat dalam kesepakatan nuklir tahun 2015 untuk memfasilitasi transaksi keuangan melanjutkan perdagangan dan kerjasama ekonomi.

"Kami mendesak semua orang untuk tidak memutuskan hubungan ekonomi, termasuk pembelian produk Iran, terutama energi," tambahnya.


Trump Janji Buka Dialog

Presiden AS Donald Trump mengatakan terbuka untuk melakukan dialog dengan petinggi Iran di tengah meningkatnya hubungan kedua negara tersebut.

"Apa yang ingin saya lihat dengan Iran, saya ingin mereka melakukan panggilan telepon kepada saya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih seperti dilansir AFP, Kamis (9/5).

Trump mengklaim bahwa mantan menteri luar negeri AS John Kerry telah mengatakan kepada Iran untuk tidak melakukan telepon dengan Trump terkait masalah sanksi baru. Namun, Trump mengaku mengabaikan hal itu.

"Tapi mereka harus menelepon. Jika mereka melakukannya, kita terbuka untuk berbicara dengan mereka," kata Trump.


Sebelumnya, Uni Eropa menolak ultimatum Iran yang mengancam akan meneruskan kembali program nuklirnya jika pihak-pihak penandatangan kesepakatan nuklir 2015 lalu tak membela Teheran dari dera sanksi Amerika Serikat.

Sebagai salah satu penandatangan perjanjian tersebut, Uni Eropa menegaskan komitmennya untuk mempertahankan perjanjian yang dikenal dengan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) itu.

"Kami menolak ultimatum dan kami akan menilai kepatuhan Iran berdasarkan kinerja Iran terkait komitmennya terhadap kesepakatan (JCPOA)," bunyi pernyataan bersama Menteri Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini bersama Menlu Inggris, Perancis, dan Jerman, Kamis (9/5), seperti dilansir AFP.

Pernyataan itu diutarakan menyusul sikap Iran yang mengancam melanjutkan pengayaan uranium jika negara penandatangan JCPOA tak membela Teheran dari sanksi Amerika Serikat.Amerika Serikat sendiri telah memberlakukan sanksi baru terhadap industri tambang dan baja Iran.

(dal/DAL)