Serangan Drone Houthi Picu Penutupan Pipa Minyak Saudi

CNN Indonesia | Rabu, 15/05/2019 08:02 WIB
Serangan Drone Houthi Picu Penutupan Pipa Minyak Saudi Ilustrasi. (Reuters/Ahmed Jadallah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Serangan drone atau pesawat nirawak kelompok pemberontak Yaman, Houthi, melumpuhkan sejumlah target vital Arab Saudi, termasuk pipa minyak besar milik Saudi Aramco yang akhirnya terpaksa ditutup.

"Saudi Aramco menutup sementara pipa minyak untuk mengevaluasi kondisinya," ujar Menteri Energi Saudi, Khalid al-Falih, sebagaimana dikutip AFP, Selasa (14/5).

Falih menjelaskan bahwa penutupan jalur pipa besar ini dilakukan setelah dua stasiun pompa minyak Saudi menjadi target serangan drone Houthi pada Selasa pagi.


Stasiun pompa yang membentang di Jalur Pipa Timur Barat itu mampu memompa lima juta barel minyak dari Provinsi Timur ke pelabuhan Laut Merah setiap harinya.
Falih memastikan bahwa produksi dan ekspor minyak Saudi Aramco tidak terpengaruh dengan kerusakan akibat serangan drone Houthi tersebut.

Meski demikian, Falih mengatakan mengatakan bahwa insiden ini adalah "aksi terorisme yang tidak hanya menargetkan kerajaan, tapi juga keamanan pasokan minyak dunia dan perekonomian global."

Menanggapi kecaman Saudi, juru bicara Houthi, Mohammed Abdulsalam, mengatakan bahwa serangan tersebut "adalah respons terhadap agresor yang terus melakukan genosida" terhadap warga Yaman.
Abdulsalam kemudian memperingatkan bahwa Houthi akan melakukan "operasi unik lainnya jika para pelaku agresi terus melakukan kejahatan dan blokade."

"Kami mampu mengeksekusi operasi unik dalam skala lebih besar dan luas di jantung negara musuh," katanya.

Saudi turun tangan dalam perang di Yaman sejak 2015 lalu, ketika Houthi mulai menguasai Istana Kepresidenan di Sanaa.

[Gambas:Video CNN]

Saat itu, Presiden Yaman, Abd-Rabbu Mansour Hadi, kabur meminta pertolongan ke Saudi dan sempat bersembunyi di sana. Saudi lantas memutuskan untuk melakukan serangan udara ke wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman.

Merujuk pada laporan sejumlah lembaga pemantau, perang yang pecah sejak 2015 itu hingga kini sudah merenggut lebih dari puluhan ribu nyawa, sekitar 17 ribu di antaranya adalah warga sipil. (has/has)