Dubes Palestina Ragu Kesepakatan dengan Israel Akan Terwujud

CNN Indonesia | Senin, 20/05/2019 13:20 WIB
Dubes Palestina Ragu Kesepakatan dengan Israel Akan Terwujud Ilustrasi. (Reuters/Ammar Awad)
Jakarta, CNN Indonesia -- Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al Shun, ragu kesepakatan damai dengan Israel akan terwujud karena Negara Zionis ogah berdamai.

"Dari segala bentuk perundingan yang telah diadakan, atau yang akan diadakan, saya tidak yakin itu akan mencapai sebuah kesepakatan karena memang Israel tidak menginginkan itu terjadi," ujar Zuhair dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (17/5).

Menurut Zuhair, Israel hanya menginginkan kekacauan dan tidak ingin perdamaian bagi kedua negara.


"Kalau pun memang Israel menginginkan perundingan, kami akan siap karena kami memang menginginkan perdamaian itu karena kami ingin mewujudkan kemerdekaan negara kami dan menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota," katanya.
Selama berpuluh tahun, berbagai perundingan damai antara Israel dan Palestina memang tak pernah berhasil.

Kini, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump kembali menggagas satu proposal perdamaian.

Namun, usulan yang rencananya bakal diumumkan sekitar awal Juni mendatang itu ditolak mentah-mentah oleh Palestina karena dilaporkan tidak akan menyertakan solusi dua negara.
Selama ini, komunitas internasional menganggap solusi dua negara sebagai jalan keluar untuk mendamaikan Israel dan Palestina.

Di tengah kebuntuan ini, Indonesia memanfaatkan momen kepemimpinan di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa sepanjang bulan Mei ini untuk membahas isu Palestina.

Pada 22 Mei mendatang, Indonesia akan kembali memimpin rapat DK PBB soal situasi Timur Tengah dengan salah satu agenda pembahasan keberlanjutan proses perdamaian Israel dan Palestina.

[Gambas:Video CNN]

Ketua Satgas Harian Keanggotaan RI di DK PBB Kemlu RI, Hari Prabowo, menegaskan bahwa Indonesia selalu mendukung segala gagasan mengenai proses perdamaian Israel-Palestina selama proposal itu didasari prinsip-prinsip internasional yang disepakati.

"Bagi Indonesia pendekatan baru itu bagus-bagus saja, tapi fresh approach bukan berarti mengabaikan paramater dan prinsip internasional yang sudah lama disepakati kan? Termasuk soal two state solution ini," kata Hari.

"Intinya, apa yang sudah disepakati sebelumnya harus menjadi dasar dalam proses perdamaian itu dan setiap kemajuan berikutnya." (has/has)