Singapura sebagai negara tetangga Indonesia, misalnya, mengimbau warganya untuk waspada setelah menerima laporan mengenai kemungkinan demonstrasi di depan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
Imbauan serupa juga dirilis oleh negara tetangga Indonesia lainnya, Malaysia. Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia melaporkan bahwa demonstrasi kemungkinan menjalar ke cabang-cabang KPU dan Bawaslu di berbagai daerah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Twitter]
Sementara itu, negara tetangga di selatan Indonesia, Australia, bahkan menyebut bahwa ada ancaman kekerasan dan kemungkinan terorisme setelah pengumuman hasil pemilu.
"Hindari protes, demonstrasi, dan unjuk rasa, karena dapat berubah menjadi ricuh tanpa peringatan terlebih dulu," demikian bunyi imbauan perjalanan tersebut.
Inggris juga merilis peringatan serupa sebagai antisipasi menjelang pengumuman pemenang pemilu yang awalnya memang dijadwalkan digelar pada 22 Mei.
"Pemilihan umum digelar di Indonesia pada 17 April dengan hasil resmi dijadwalkan diumumkan pada 22 Mei. Anda harus menghindari semua aksi protes, demonstrasi, dan unjuk rasa politik," tulis pemerintah Inggris dalam situs resminya.
[Gambas:Video CNN]
Sejumlah negara Barat lain juga merilis imbauan senada, termasuk Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa demonstrasi juga kemungkinan merebak ke Surabaya dan Medan.
"Hindari daerah di mana demonstrasi dan unjuk rasa politik digelar dan terus waspada jika berada di sekitar kerumunan," tulis Kedutaan Besar AS untuk Indonesia di situs resminya.
Seluruh imbauan dari negara asing itu masih berlaku meski KPU sudah mengumumkan pemenang pada Selasa (21/5) dini hari.
Berdasarkan hasil hitung penuh KPU, pasangan calon nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin, berhasil mengalahkan rivalnya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. (has)