Sekutu Duterte Menang Telak Pemilu Sela Parlemen Filipina

CNN Indonesia | Rabu, 22/05/2019 12:20 WIB
Sekutu Duterte Menang Telak Pemilu Sela Parlemen Filipina Sekutu politik Rodrigo Duterte menang telak dalam pemilu parlemen, melengangkan jalan bagi sang presiden untuk meloloskan sejumlah agenda kontroversialnya. (Reuters/Erik De Castro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekutu politik Rodrigo Duterte menang telak dalam pemilihan umum sela parlemen Filipina, melengangkan jalan bagi sang presiden untuk meloloskan sejumlah agenda kontroversialnya, termasuk pemberlakuan kembali hukuman mati.

Berdasarkan hasil rekapitulasi akhir pemilu sela yang dirilis pada Rabu (22/5), para loyalis Duterte menguasai kursi di kedua badan dewan di Senat.

Dari 12 kursi Senat yang diperebutkan dalam pemilu sela ini, sembilan di antaranya berhasil diamankan oleh pendukung Duterte, sementara tiga lainnya oleh kader tanpa aliansi politik.


Sementara itu, para sekutu politik Duterte juga menyapu bersih kursi yang diperebutkan di tingkat Dewan Perwakilan.
Hasil ini dianggap dapat kian menguatkan posisi Duterte yang memang sudah memiliki tingkat popularitas tinggi berkat janji penguatan hukum di tengah negara rawan kejahatan tersebut.

"Ini merupakan sinyal jelas bahwa warga akan mendukungnya, termasuk dalam meloloskan undang-undang dan segala prosesnya yang sebelumnya agak tersendat," ujar seorang analis politik Filipina, Ramon Casiple, kepada AFP.

Dengan kemenangan ini, Duterte memang akan lebih leluasa menjalankan rencana besarnya untuk mengubah konstitusi.
Kubu oposisi curiga Duterte akan mengubah pasal mengenai masa jabatan pemimpin Filipina yang ditetapkan hanya satu periode. Jika aturan itu benar-benar diubah, Duterte dapat mengikuti pemilu lagi.

"Pemilu ini memberikan Duterte kekuasaan penuh untuk memaksakan sistem pemerintahannya yang sudah dapat disimpulkan, yaitu transformasi penuh sistem politik nasional," ujar analis politik Filipina, Richard Heydarian.

Selain itu, salah satu agenda besar Duterte adalah menerapkan kembali hukuman mati di Filipina, langkah yang dikecam oleh berbagai kelompok pemerhati hak asasi manusia.

[Gambas:Video CNN]

Filipina sudah melarang penerapan hukuman mati pada 1987. Sempat diberlakukan kembali enam tahun kemudian, hukuman itu lantas dilarang lagi pada 2006.

Kendati dikritik oleh berbagai kelompok pemerhati HAM, pendekatan keras Duterte ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Filipina yang sudah muak dengan tingkat kriminalitas tinggi.

Janji-janji pemberantasan kriminalitas seperti ini pula lah yang membuat Duterte menang dalam pemilu presiden pada 2016 lalu. (has)