Puluhan Jasad Demonstran Sudan Dibuang ke Sungai Nil

AFP, CNN Indonesia | Kamis, 06/06/2019 08:43 WIB
Puluhan Jasad Demonstran Sudan Dibuang ke Sungai Nil Terjadi bentrokan antara pasukan militer dan demonstran di Sudan pada awal pekan ini dan diklaim menewaskan lebih dari 100 orang. (ASHRAF SHAZLY / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok militer di Sudan diklaim membuang puluhan jasad para demonstran ke Sungai Nil.

Hal ini dinyatakan Komite Pusat untuk Dokter Sudan (CCSD) yang memiliki kedekatan dengan para demonstran. Dokter juga menyatakan jumlah korban tewas mencapai 108 jiwa dengan 500 lainnya terluka, sementara Kementerian Kesehatan Sudan menyebut jumlahnya tidak melebihi 46 jiwa.

Seorang dokter di rumah sakit di Khartoum kepada The Guardian mengatakan bahwa ia melihat kelompok militer membuang 10 jenazah dari atas jembatan Nil Biru sekitar pukul empat dini hari.


Pada Rabu, penduduk dan aktivis demonstran mengangkat sembilan jenazah dari Sungai Nil. The Guardian juga mendapatkan foto beberapa jenazah itu dibenamkan ke sungai menggunakan beton yang diikatkan ke kaki.

Di tengah-tengah tensi yang semakin meningkat, para pemimpin demonstran di Sudan menolak tawaran dari pemerintah militer untuk bernegosiasi dan menuntut keadilan bagi para korban tewas.

"Rakyat Sudan tidak membuka pembicaraan," kata Amjad Farid, seorang juru bicara untuk Asosiasi Profesional Sudan serta pemimpin para demonstran.

"Rakyat Sudan tidak menerima Dewan-Transisi Militer yang membunuh orang-orang, dan kami membutuhkan keadilan dan pertanggungjawaban sebelum membicarakan protes politik."

Saat ini Sudan di bawah kendali Dewan Militer setelah President Omar al-Bashir digulingkan pada 11 April lalu, menyusul gelombang protes dan demonstrasi yang menentang pemerintahannya.

Pemimpin militer Jenderal Abdel Fattah al-Burhan mengatakan bahwa pemerintah akan menggelar pemilihan umum pada sembilan ke depan.

Namun para demonstran yang menduduki ibu kota Khartoum menolak pemilu tersebut dan meminta Dewan Militer untuk memberi jalan bagi lembaga transisi yang dipimpin oleh sipil.

Semula, Dewan Militer dan kelompok oposisi telah menyepakati bahwa transisi menuju demokrasi akan berlangsung selama tiga tahun.

Bentrokan pun terjadi pada Senin (3/6) antara aparat keamanan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) dengan para demonstran.

Saksi mata mengatakan bahwa polisi dan RSF menembaki para demonstran sementara beberapa video memperlihatkan pasukan keamanan memukuli mereka dengan tongkat.

Akses internet sendiri diblokir di beberapa tempat oleh penyedia jaringan.

Situasi mulai mereda pada Selasa dan Rabu, ketika rakyat Sudan yang mayoritas umat muslim merayakan Idul Fitri.

Bentrokan awal pekan ini mendapatkan reaksi keras dari dunia internasional, termasuk Sekjen PBB Antonio Guterres.

(vws)