Dubes RI Perkenalkan Tradisi Mudik ke Tamu Lebaran di Korut

has, CNN Indonesia | Kamis, 06/06/2019 14:20 WIB
Dubes RI Perkenalkan Tradisi Mudik ke Tamu Lebaran di Korut Dubes RI untuk Korut, Berlian Napitupulu, memperkenalkan tradisi mudik Lebaran di Indonesia kepada tamu asing di acara perayaan Idul Fitri di Pyongyang. (Dok. KBRI Pyongyang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Duta Besar RI untuk Korea Utara, Berlian Napitupulu, memperkenalkan tradisi mudik selama libur Lebaran di Indonesia kepada para tamu undangan perwakilan negara asing di acara perayaan Idul Fitri di Pyongyang pada Rabu (5/6).

Berlian mengatakan bahwa ia memperkenalkan tradisi tersebut kepada duta besar dari Iran, Palestina, Suriah, dan perwakilan Nigeria yang hadir dalam acara Lebaran di Kedutaan Besar RI di Pyongyang.
Memulai ceritanya, Berlian berkata, "Idul Fitri adalah hari raya terbesar di Indonesia yang disebut lebaran. Tahun ini, kami libur selama seminggu. Ini adalah kesempatan baik para kaum urban pulang ke kampung halaman menemui orang tua dan sanak saudara untuk berbagi berkat dan meminta restu dalam ritual yang disebut mudik."

Ia kemudian menuturkan bahwa setiap Lebaran, puluhan juta penduduk dari berbagai kota rela menghabiskan waktu berjam-jam demi berkumpul bersama sanak saudara di kampung halaman.


"Tetapi tahun ini sudah jauh lebih singkat karena ada jalan tol baru sepanjang Pulau Jawa," tutur Berlian sebagaimana tertera dalam siaran pers yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (6/6).
Selain tradisi mudik, Berlian juga memperkenalkan kebudayaan Indonesia melalui makanan yang disajikan dalam acara open house di KBRI Pyongyang kali ini.

Istri Berlian, Elisabeth Napitupulu, mengatakan bahwa menyajikan makanan khas Indonesia saat Lebaran di Korut merupakan tantangan tersendiri baginya.

"Soalnya ketersediaan bumbu khas Indonesia sangat terbatas. Kita juga harus memastikan kehalalan bahan makanan yang kita masak sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat Muslim tamu undangan Open House," ucapnya.
Melanjutkan keterangannya, Elisabeth berkata, "Oleh karena itu, sebagian bumbu harus kita datangkan dari Hongkong dan Thailand, sedangkan daging halal didapatkan dari pemotongan sendiri atau toko-toko tertentu di Pyongyang."

Tak hanya itu, Berlian juga memperkenalkan nilai-nilai keberagaman yang ada di Indonesia selama ini kepada para tamu undangan.

"Kami mempunyai tradisi untuk saling menghargai agama dan budaya yang berbeda sejak dahulu. Pemerintah Indonesia mengakui secara resmi enam agama di Indonesia. Hal itu merupakan cerminan dari moto bangsa Indonesia 'Bhinneka Tunggal Ika' sebagaimana tertulis pada lambang Garuda Pancasila yang terpampang di ruangan pertemuan ini," katanya.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Berlian, Duta Besar Suriah, Tamman Sulaiman, memuji Indonesia karena walaupun bukan negara Islam, warga tetap berkomitmen menjalankan ajaran agama tersebut.

Sulaiman juga sangat menghargai perjuangan Indonesia untuk mendukung Palestina di kancah global.

"Demikian pula Duta Besar Iran, Seyed Mohsen Emadi, yang mengakui dan memuji peranan Indonesia di PBB khususnya dalam Komite Perlucutan Senjata," kata Berlian. (has/has)