Warga Hong Kong Bersiap Demo Tolak RUU Ekstradisi

REUTERS, CNN Indonesia | Minggu, 09/06/2019 08:19 WIB
Warga Hong Kong Bersiap Demo Tolak RUU Ekstradisi Ilustrasi, (Istockphoto/chinaface)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setidaknya setengah juta orang di Hong Kong diperkirakan akan turun ke jalanan pada Minggu (9/6), demi mendesak pemerintah membatalkan rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi yang memungkinkan tersangka kasus kriminal dikirim ke China untuk diadili, kata pemimpin aksi.

Kelompok-kelompok pro-demokrasi memperkirakan aksi demonstrasi hari ini merupakan yang terbesar sejak 2003, saat mereka mengkritik undang-undang keamanan nasional yang ketat.

Aksi protes hari ini akan berakhir di kantor Dewan Legislatif, tempat para dewan bakal menimbang kelayakan RUU tersebut pada Rabu (12/9). Jika disetujui, undang-undang itu ditetapkan akhir bulan ini.



Setelah tekanan lokal dan internasional meningkat selama berminggu-minggu, aksi protes tersebut diharapkan dapat membatalkan RUU, karena banyak orang yang tak percaya dengan sistem hukum di China.

Selama ini sistem hukum independen kota dijamin berdasarkan undang-undang yang mengatur kembalinya Hong Kong dari Inggris ke pemerintahan Tiongkok pada 22 tahun yang lalu.

Kekhawatiran akan RUU yang dinilai tidak transparan itu telah menyebar dari kelompok demokrasi dan hak asasi manusia, siswa sekolah menengah, kelompok gereja, media, pengacara perusahaan, dan tokoh-tokoh bisnis.

Anggota parlemen dari Partai Veteran Demokrat, James To, mengatakan kepada Reuters bahwa ia yakin aksi hari ini akhirnya dapat mempengaruhi keputusan pemerintah Hong Kong.


"Ini benar-benar bisa memaksa pemerintah memikirkan ulang atas keputusan tersebut," katanya.

"Ada hal yang bisa dimainkan... Orang-orang benar-benar merasakan RUU itu kemunduran bagi Hong Kong."

Kepala Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, dan pejabat seniornya menegaskan bahwa perlindungan akan dilakukan selama proses hukum di China untuk memastikan bahwa siapa pun yang menghadapi penganiayaan atau penyiksaan politik dan agama tidak akan diekstradisi.

Demikian pula, siapa pun yang menghadapi hukuman mati tidak akan diekstradisi, tetapi pengawasan legislatif terhadap pengaturan ekstradisi telah dihapus di bawah RUU tersebut.

Sejumlah hakim senior telah menyatakan kekhawatiran mendalam tentang perubahan tersebut.

Aksi protes akan mengakhiri minggu politik yang intens bagi kota itu, dengan sekitar 180 ribu orang menyalakan lilin pada Selasa (4/6) untuk menandai 30 tahun sejak tragedi Lapangan Tiananmen dan demonstrasi para pengacara kota pada hari Kamis (6/6).

Aksi tersebut melanjutkan aksi yang sama dan dihadiri oleh 100 ribu orang pada akhir Mei.

Pengacara komersial dan komentator Kevin Yam berharap banyak orang yang menghadiri aksi hari ini.

Sekretaris Negara Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo dan Inggris serta Jerman telah mengkritik RUU tersebut, sementara 11 utusan Uni Eropa bertemu dengan Carrie Lam untuk memprotes secara resmi.

Pada hari Sabtu (8/6), seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS menegaskan kembali kekhawatiran AS.

"Amerika Serikat secara ketat memantau dan prihatin dengan amandemen yang diusulkan pemerintah Hong Kong terhadap undang-undang tersebut," katanya.


[Gambas:Video CNN]

(ard)