FOTO: Derap Protes Warga Hong Kong Menolak RUU Ekstradisi

Reuters - AFP - Associated Press, CNN Indonesia | Minggu, 09/06/2019 19:10 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Jutaan warga Hong Kong turun ke jalan menolak RUU Ekstradisi yang dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap keterbukaan proses hukum oleh China.

Setengah juta penduduk Hong Kong turun ke jalanan pada Minggu (9/6), mendesak pemerintah membatalkan rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi. (Photo by DALE DE LA REY / AFP)
Warga Hong Kong menolak aturan yang bisa membuat tersangka kasus kriminal, termasuk aktivis, dikirim ke China untuk diadili jika melanggara hukum. (REUTERS/Thomas Peter)
Kelompok-kelompok pro-demokrasi memperkirakan aksi demonstrasi hari ini merupakan yang terbesar sejak 2003, saat mereka mengkritik undang-undang keamanan nasional yang ketat. (REUTERS/Thomas Peter)
Aksi protes berakhir di kantor Dewan Legislatif. Jika disetujui, undang-undang itu ditetapkan akhir Juni. (REUTERS/Thomas Peter)
Selama ini sistem hukum independen kota dijamin berdasarkan undang-undang yang mengatur kembalinya Hong Kong dari Inggris ke China pada 22 tahun lalu. (Photo by DALE DE LA REY / AFP)
Aksi protes tersebut diharapkan dapat membatalkan RUU, karena banyak orang yang tak percaya dengan sistem hukum di China. (AP Photo/Vincent Yu)
Kekhawatiran akan RUU yang dinilai tidak transparan itu telah menyebar dari kelompok pro demokrasi dan hak asasi manusia, serta hampir seluruh lapisan masyarakat. (REUTERS/Thomas Peter)
Kepala Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, menjanjikan perlindungan akan dilakukan selama proses hukum di China, untuk memastikan siapa pun yang menghadapi penganiayaan atau penyiksaan politik dan agama tidak akan diekstradisi. (Photo by Dale DE LA REY / AFP)
Aksi tersebut melanjutkan aksi yang sama dan dihadiri oleh 100 ribu orang pada akhir Mei. (AP Photo/Kin Cheung)
Amerika Serikat, Inggris serta Jerman telah mengkritik RUU tersebut. Sementara 11 utusan Uni Eropa bertemu dengan Carrie Lam untuk memprotes secara resmi. (Photo by DALE DE LA REY / AFP)