AFP melaporkan bahwa saat ini, pemerintahan Hong Kong terbelah dua antara pendukung pemimpin mereka, Carrie Lam, dan kubu yang mendesak agar RUU itu ditangguhkan.
"Tak ada yang terlalu terlambat. Situasi terbaru saat ini dapat dijadikan dasar bagi pemimpin manapun untuk mengubah posisi mereka. Tak ada yang salah dengan itu," ujar seorang anggota parlemen, Michael Tien.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka kembali menggelar unjuk rasa pada Rabu lalu, ketika parlemen dijadwalkan membahas RUU ekstradisi tersebut.
Meski parlemen membatalkan pembahasan, mereka tetap menggelar unjuk rasa yang kembali berujung ricuh hingga aparat menembakkan gas air mata dan peluru karet.
Massa bertekad akan terus berdemonstrasi karena pemerintah Hong Kong tak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan pembahasan RUU ekstradisi.
Melihat kemelut ini, penasihat Lam sendiri, Bernard Chan, juga menganggap percepatan pembahasan RUU ekstradisi ini sekarang sudah "tidak mungkin."
[Gambas:Video CNN]
"Secara pribadi, saya melihat tidak mungkin membicarakan RUU ketika ada begitu banyak konflik dari semua pihak. Sangat sulit," tutur Chan.
Menutup pernyataannya, ia berkata, "Pada akhirnya kami harus meredam antagonisme." (has)