Papua Nugini Ambisi Jadi Negara Kulit Hitam Terkaya di Dunia

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 17/06/2019 13:49 WIB
Papua Nugini Ambisi Jadi Negara Kulit Hitam Terkaya di Dunia Ilustrasi (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Papua Nugini (PNG) berambisi menjadi negara kulit hitam terkaya di dunia dalam 10 tahun. Padahal peringkat ekonomi negara ini saat ini menduduki peringkat 153 dari 189 negara di dunia. Peringkat ini menempatkan Papua Nugini lebih baik dari Suriah dan sedikit lebih buruk dari Myanmar.

Ambisi besar ini dilontarkan oleh Perdana Menteri negara itu, James Marape. Bebeerapa orang yang pesimis dengan gembar-gembor Marape menyebut janjinya itu adalah sesuatu yang dibuat-buat.

Sebab, perjuangan Papua Nugini untuk meraih predikat tersebut agak berat. Saat ini negara kulit hitam yang paling terindustrialisasi adalah Trinidad dan Tobago. Negara ini memiliki ekonomi yag 833 persen lebih baik dari Papua Nugini. Jika Bermuda yang dikuasai Inggris dimasukkan dalam hitungan ini, maka tugas itu bakal makin berat.


Jika ingin mengalahkan negara-negara kulit hitam ini, maka pertumbuhan Papua Nugini mesti memecahkan rekor dunia. Negara itu perlu tumbuh 30 persen pertahun, setiap tahunnya, selama 10 tahun.

"PNG tidak pernah mengalami pertumbuhan 30 persen di masa lalu. Tidak ada juga negara yang pernah umbuh sebesar itu, setidaknya tidak pada waktu yang lama berturut-turut," jelas Maholopa Laveil, pengajar ekonomi di Universitas Papua Nugini, seperti dikutip AFP, Minggu (16/6).

Untuk mencapai ambisinya itu, Marape sepertinya menaruh harapan pada peningkatan pendapatan atas gas alam. Ia mengisyaratkan kemungkinan akan menegosiasi ulang kontrak gas alam cair (LNG) dengan Total dan ExxonMobil.

Ia akan menggandakan produksi gas alam nasional agar lebih bermanfaat bagi perekonomian lokal. Dia juga berjanji untuk menghentikan ekspor kayu keras yang belum diproses dan mengatasi korupsi.

Tetapi strateginya disertai dengan risiko. Sebab, selama ini negara itu terlalu bergantung pada industri gas alam. Akibatnya, menurut Bank Dunia ekonomi negara itu rawan atas kondisi pasar energi dunia dan bencana alam. Sebelumnya, gempa 7,5 SR telah membekukan produksi dan menjatuhkan ekonomi negara itu di 2018. (eks/eks)