Bangladesh Kesal Sebab Myanmar Lamban Pulangkan Rohingya

CNN Indonesia | Selasa, 11/06/2019 12:50 WIB
Bangladesh Kesal Sebab Myanmar Lamban Pulangkan Rohingya Pemerintah Bangladesh mempersoalkan minimnya upaya Myanmar dalam pemulangan etnis Rohingya yang kabur karena persekusi dan pembantaian. (ANTARA FOTO/Rahmad)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Bangladesh kembali berselisih dengan Myanmar terkait persoalan etnis Rohingya. Perdana Menteri Sheikh Hasina mengecam Myanmar yang dianggap lamban dalam memulangkan para pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari persekusi dan pembantaian.

Seperti dilansir AFP, Selasa (11/9), kritik Hasina ini mengisyaratkan kesabaran Bangladesh yang semakin menipis karena persoalan Rohingya.

"Masalahnya ada pada Myanmar karena mereka tidak mau menjemput kelompok Rohingya dengan berbagai cara," ujar Hasina dalam suatu konferensi pers.


Hasina juga mengkritik dan menyebut lembaga bantuan internasional yang bertugas di kamp-kamp pengungsi di perbatasan wilayah Cox's Bazar tidak berniat mengakhiri krisis kemanusiaan yang terjadi.
Sekitar 740 ribu minoritas Rohingya mengungsi di kamp-kamp penuh sesak dan pengap di Bangladesh. Mereka lari dari kejaran pasukan dan kelompok radikal Myanmar yang memburu mereka pada 2017 lalu.

Banyak dari minoritas Muslim Rohingya khawatir akan keselamatan mereka jika kembali ke Myanmar. Sebab, mereka yakin akan kembali mengalami tekanan dan hak-haknya yang terus diabaikan.

Pemerintah Myanmar dan Bangladesh sebenarnya telah meneken kesepakatan pemulangan Rohingya pada November 2017. Namun, tak satu pun dari kelompok Rohingya secara sukarela kembali ke negara asalnya.
Bangladesh sebelumnya telah menyatakan tidak akan memaksa minoritas Rohingya kembali ke kampung halaman mereka di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Di tempat itu mereka justru tersiksa karena dianiaya, dibunuh, diperkosa, serta rumah mereka dijarah dan perkampungan mereka dibakar.

Di sisi lain, Hasina juga meminta pelaku aksi protes terkait rencana pemulangan yang telah dilakukan di beberapa kamp diselidiki. Hasina menambahkan Bangladesh membangun tempat penampungan di pulau tandus yang rawan banjir di Teluk Bengal.

"Mereka yang memberikan bantuan kepada kelompok Rohingya memiliki keberatan yang serius, padahal pemerintah telah membangun tempat bermukim yang indah di Bhashan Char," ujar Hasina.

Kritik Hasina tersebut disampaikan bersamaan dengan bocornya laporan dari tim tanggap darurat ASEAN, yang menunjukkan minimnya upaya Myanmar untuk memulangkan para pengungsi Rohingya.

[Gambas:Video CNN]

Laporan tersebut juga menyebabkan para pengamat ragu karena ada yang menutupi kekejaman oleh pasukan Myanmar, perang saudara di negara bagian Rakhine, serta menyalahkan keterlambatan pemulangan karena lambannya pengurusan dokumen dari pejabat Bangladesh. (ajw/ayp)