Seperti dilansir AFP, Selasa (11/9), kritik Hasina ini mengisyaratkan kesabaran Bangladesh yang semakin menipis karena persoalan Rohingya.
"Masalahnya ada pada Myanmar karena mereka tidak mau menjemput kelompok Rohingya dengan berbagai cara," ujar Hasina dalam suatu konferensi pers.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak dari minoritas Muslim Rohingya khawatir akan keselamatan mereka jika kembali ke Myanmar. Sebab, mereka yakin akan kembali mengalami tekanan dan hak-haknya yang terus diabaikan.
Pemerintah Myanmar dan Bangladesh sebenarnya telah meneken kesepakatan pemulangan Rohingya pada November 2017. Namun, tak satu pun dari kelompok Rohingya secara sukarela kembali ke negara asalnya.
Di sisi lain, Hasina juga meminta pelaku aksi protes terkait rencana pemulangan yang telah dilakukan di beberapa kamp diselidiki. Hasina menambahkan Bangladesh membangun tempat penampungan di pulau tandus yang rawan banjir di Teluk Bengal.
"Mereka yang memberikan bantuan kepada kelompok Rohingya memiliki keberatan yang serius, padahal pemerintah telah membangun tempat bermukim yang indah di Bhashan Char," ujar Hasina.
Kritik Hasina tersebut disampaikan bersamaan dengan bocornya laporan dari tim tanggap darurat ASEAN, yang menunjukkan minimnya upaya Myanmar untuk memulangkan para pengungsi Rohingya.
[Gambas:Video CNN]
Laporan tersebut juga menyebabkan para pengamat ragu karena ada yang menutupi kekejaman oleh pasukan Myanmar, perang saudara di negara bagian Rakhine, serta menyalahkan keterlambatan pemulangan karena lambannya pengurusan dokumen dari pejabat Bangladesh. (ajw/ayp)