Sebelum Dimakamkan, Jasad Mursi Disalatkan di Dalam Penjara

CNN Indonesia | Selasa, 18/06/2019 15:31 WIB
Sebelum Dimakamkan, Jasad Mursi Disalatkan di Dalam Penjara Jasad mantan Presiden Mesir, Mohamed Mursi, dikabarkan disalatkan di dalam sebuah masjid di Penjara Tora, Kairo, sebelum dimakamkan pada Selasa (18/6). (Reuters/Amr Abdallah Dalsh)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jasad mantan Presiden Mesir, Mohamed Mursi, dikabarkan disalatkan di dalam sebuah masjid di Penjara Tora, Kairo, sebelum dimakamkan pada Selasa (18/6).

Salah satu kuasa hukum Mursi, Abdul-Moneim Abdel-Maqsoud, menuturkan anggota keluarga turut menyalatkan jenazah Mursi sebelum mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir di pemakaman kota di distrik Nasr, Kairo.
Dilansir Associated Press, anak laki-laki Mursi, Ahmed, menuturkan otoritas keamanan Mesir tidak mengizinkan Mursi dimakamkan di pemakaman keluarga di kota kelahirannya di Provinsi Sharqia.

Proses pemakaman Mursi pun tertutup untuk publik. Aparat keamanan bahkan melarang sejumlah wartawan mengambil foto pemakaman Presiden Mesir ke-5 itu. Media juga dilarang berpergian ke kota kelahiran Mursi.


Mursi meninggal di usia 67 tahun karena serangan jantung saat menghadiri persidangan terkait tuduhan spionase di Pengadilan Kairo, Senin (17/6). Mengutip petugas medis, stasiun televisi pemerintah Mesir melaporkan Mursi memang telah lama mengidap tumor jinak.
Jaksa penuntut umum mengatakan Mursi sempat jatuh pingsan dalam kurungan terdakwa di ruang sidang tak lama setelah berbicara. Ia lalu dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit sekitar pukul 16.50 waktu setempat. 

Selama mendekam di penjara, Mursi juga dikabarkan mengidap penyakit diabetes. Ia dilaporkan sering ditahan di sel isolasi dan tidak boleh dibesuk.

Keluarga Mursi hanya pernah mengunjunginya sebanyak tiga kali selama di penjara.

[Gambas:Video CNN]

Ikhwanul Muslimin, organisasi yang pernah Mursi pimpin, menyalahkan Mesir atas "kematian perlahan yang disengaja" eks pemimpinnya itu.

"(Otoritas Mesir) memasukkannya ke sel isolasi. Mereka menahan obat-obatan dan memberinya makanan yang menjijikkan. Mereka tidak memberinya hak asasi yang paling mendasar," demikian pernyataan Partai Kebebasan dan Keadilan bentukan Ikhwanul Muslimin. (rds/has)