Anggota G20 Dinilai Tidak Konsisten Turunkan Angka Emisi

CNN Indonesia | Selasa, 25/06/2019 01:40 WIB
Anggota G20 Dinilai Tidak Konsisten Turunkan Angka Emisi Ilustrasi. (Foto: Aly Song)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyebut negara anggota G20 tidak konsisten dengan apa yang sudah mereka tulis dalam kesepakatan untuk menurunkan gas emisi di bumi.

Manager Kampanye Keadilan Iklim WALHI, Yuyun Harmoni, menyebutkan beberapa negara anggota G20 yang tidak menjalankan itu antara lain Jepang, Korea Selatan, dan China. Padahal salah satu komitmen G20 adalah menurunkan angka emisi.




Yuyun mengatakan untuk menurunkan tingkat emisi di bumi, seharusnya pengguna sumber energi dari fosil dan batu bara harus dihentikan atau setidaknya dapat dikurangi.

"Ya mereka harus mengurangi secara drastis penggunaan energi fosil sebagai sumber energi primer, di dalam negeri masing-masing negara anggota. Yang kedua adalah menghentikan pendanaan energi kotor di negara lain," kata Yuyun di kantor WALHI, Jakarta, Senin (24/5).

"Kenapa kita bilang komitmen mereka itu selalu tidak pernah sesuai dengan yang tertulis misalnya, karena memang komitmennya volunteering."

Namun, ia melanjutkan, komitmen volunteering yang dimaksud Yuyun artinya bukan mandatori.



Ia menambahkan dalam volunteering tidak ada reward dan hukuman ketika negara tersebut melakukan pengurangan emisi atau menghentikan batu bara.

"Volunteering itu artinya ya itu bukan mandatori, lu harus kurangin emisi sekian persen, lu harus hentikan batu bara engga, engga. Itu volunteering aja dan volunteering itu tidak ada reward juga tidak ada punishment ketika dia tidak melakukan itu,"Ujar Yuyun

Selain itu juga, Yuyun menambahkan, negara anggota G20 tidak boleh berinvestasi atau memberi bantuan dana untuk mengembangkan produksi energi kotor di negara lain.

Seperti halnya negara Indonesia dan Vietnam menjadi negara yang memproduksi batu bara dalam jumlah besar atas bantuan Jepang, Korea dan China.

"Negara maju baik pemerintah yang ada disana (Jepang, China, Korea) memaksimumkan biaya energi kotor yang berada di negara berkembang misalnya Indonesia," katanya.

"Terus juga kalau di Asia Tenggara misalnya Vietnam, yang sekarang lagi getol-getolnya mengembangkan PLTU. Nah, praktik itu harusnya dihentikan kalau mereka komitmen untuk menurunkan emisi."


Pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi Negara-Negara yang tergabung dalam G20 (KTT G20) di Jepang telah dijadwalkan akan berlangsung pada tanggal 28-29 Juni 2019. Forum ini rutin digelar untuk menyikapi situasi global terbaru.

Salah satu persoalan dasar yang perlu terus didorong oleh masyarakat adalah terkait kebijakan energi global yang masih didominasi dan mengandalkan pada sumber-sumber energi fosil seperti batubara, gas, minyak.

Kebijakan energi tersebut telah mengakibatkan serangkaian masalah mulai dari menyumbang emisi CO2 hingga 40 persen, praktek korupsi, hingga menimbulkan persoalan lingkungan dan masyarakat di tingkat tapak.

[Gambas:Video CNN] (shas/agr)