Pusat Detensi Imigrasi di Tripoli Diserang, 40 Orang Tewas

CNN Indonesia | Rabu, 03/07/2019 09:27 WIB
Pusat Detensi Imigrasi di Tripoli Diserang, 40 Orang Tewas Ilustrasi konflik bersenjata di Libya. (Reuters/Goran Tomasevic/File Photo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah pusat detensi imigran di Tripoli, Libya, menjadi sasaran serangan udara pada Rabu (3/7) dini hari waktu setempat. Akibatnya, jumlah korban meninggal dalam kejadian itu dilaporkan mencapai 40 orang dan 80 lainnya luka-luka.

Seperti dilansir Associated Press, Pemerintah Libya yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan serangan itu dilakukan oleh Pasukan Nasional Libya (LNA) yang dipimpin oleh Jenderal Khalifa Haftar. Haftar mendukung pemerintahan tandingan yang dibentuk di Benghazi.
Para imigran yang ditahan di pusat detensi itu sebenarnya hendak mengungsi ke Eropa guna menghindari konflik bersenjata di Libya. Mereka dibekuk oleh pasukan setempat yang ditugaskan dan dibiayai oleh Uni Eropa.

Haftar dan pasukannya terus menggempur pemerintah Tripoli sejak April lalu. Mereka menguasai kawasan timur dan selatan Libya. Namun, pekan lalu mereka kalah saat bertempur melawan milisi yang membantu Tripoli di Kota Gharyan.


Selama ini Gharyan menjadi pusat jalur logistik bagi pasukan LNA. Pertempuran kedua pemerintahan ini menyeret Libya kembali ke dalam pusaran pertikaian bersenjata, setelah pemberontakan yang terjadi pada 2011 yang menumbangkan kekuasaan mendiang Muammar Khadafi.
Sejak pasukan pemberontak yang didukung Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berhasil menumbangkan mendiang pemimpin Libya, Muammar Khadafi, negara itu justru kacau balau. Faksi pemberontak dan loyalis Khadafi masing-masing membentuk pemerintahan di Tripoli dan Benghazi.

Haftar yang didukung Rusia mempunyai pasukan menguasai wilayah timur dengan pusat pemerintahan di Benghazi.

Pemerintahan Perdana Menteri Fayez al-Sarraj di Tripoli pun tidak efektif. Sebab, dia tidak mampu menjaga wilayahnya karena sejumlah suku mempersenjatai diri dan bertikai untuk menguasai ladang-ladang minyak. Di samping itu beberapa kelompok bersenjata saling serang memperebutkan banyak hal.

[Gambas:Video CNN] (ayp/ayp)