FOTO: Tumpah Darah Imigran Jadi Korban Serangan di Libya

Reuters, CNN Indonesia | Kamis, 04/07/2019 00:59 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah pusat detensi imigran di Tripoli, Libya, menjadi sasaran serangan udara pada Rabu (3/7) dini hari waktu setempat yang akhirnya menewaskan 40 orang.

Sebuah pusat detensi imigran di Tripoli, Libya, menjadi sasaran serangan udara pada Rabu (3/7) dini hari waktu setempat. Akibatnya, jumlah korban meninggal dalam kejadian itu dilaporkan mencapai 40 orang dan 80 lainnya luka-luka. (REUTERS/Ismail Zitouny)
Pemerintah Libya yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan serangan itu dilakukan oleh Pasukan Nasional Libya (LNA) yang dipimpin oleh Jenderal Khalifa Haftar. Haftar mendukung pemerintahan tandingan yang dibentuk di Benghazi. (REUTERS/Ismail Zitouny)
Para imigran yang ditahan di pusat detensi itu sebenarnya hendak mengungsi ke Eropa guna menghindari konflik bersenjata di Libya. Mereka dibekuk oleh pasukan setempat yang ditugaskan dan dibiayai oleh Uni Eropa. (REUTERS/Ismail Zitouny)
Haftar dan pasukannya terus menggempur pemerintah Tripoli sejak April lalu. Mereka menguasai kawasan timur dan selatan Libya. Namun, pekan lalu mereka kalah saat bertempur melawan milisi yang membantu Tripoli di Kota Gharyan. (REUTERS/Ismail Zitouny)
Selama ini Gharyan menjadi pusat jalur logistik bagi pasukan LNA. Pertempuran kedua pemerintahan ini menyeret Libya kembali ke dalam pusaran pertikaian bersenjata, setelah pemberontakan yang terjadi pada 2011 yang menumbangkan kekuasaan mendiang Muammar Khadafi. (REUTERS/Ismail Zitouny)
Sejak pasukan pemberontak yang didukung Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berhasil menumbangkan pemimpin Libya, Muammar Khadafi, negara itu justru kacau balau. Faksi pemberontak dan loyalis Khadafi masing-masing membentuk pemerintahan di Tripoli dan Benghazi. (REUTERS/Ismail Zitouny)
Haftar yang didukung Rusia mempunyai pasukan menguasai wilayah timur dengan pusat pemerintahan di Benghazi. (REUTERS/Ismail Zitouny)
Pemerintahan Perdana Menteri Fayez al-Sarraj di Tripoli pun tidak efektif. Sebab, dia tidak mampu menjaga wilayahnya karena sejumlah suku mempersenjatai diri dan bertikai untuk menguasai ladang-ladang minyak. Di samping itu beberapa kelompok bersenjata saling serang memperebutkan banyak hal. (REUTERS/Ismail Zitouny)