Menilik Sejarah 'Fourth of July', Hari Kemerdekaan AS

CNN Indonesia | Kamis, 04/07/2019 10:46 WIB
Menilik Sejarah 'Fourth of July', Hari Kemerdekaan AS Bendera Amerika Serikat. (Yuri Gripas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Empat 4 Juli menjadi hari besar bagi warga Amerika Serikat. 'The Fourth of July' ditetapkan sebagai hari peringatan deklarasi kemerdekaan bangsa AS yang diadopsi pada 4 Juli 1776 silam.

Jutaan warga AS di seluruh dunia biasanya menggelar pesta besar untuk merayakan tanggal ini. Di AS sendiri, 4 Juli ditetapkan sebagai hari libur nasional. 

Piknik di taman, pesta barbeku dan hotdog, parade, hingga pesta kembang api memeriahkan perayaan 'the Fourth of July' setiap tahunnya. 

Mengapa Fourth of July? Tanggal tersebut dimaknai sebagian besar warga AS sebagai hari di mana Negeri Paman Sam lepas dari "jajahan" Kerajaan Inggris pada 243 tahun lalu.
Lomba makan hotdog saat Hari Kemerdekaan Amerika Serikat 2017. (REUTERS/Brendan McDermid)

Inggris telah berada di AS pada 1587. Warga Inggris datang ke AS untuk mengambil sumber daya alam, terutama tembakau. Semula, hubungan antara warga Inggris pendatang dan warga asli AS baik-baik saja. 


Namun, warga asli AS mulai memberontak dan mengeluh soal pengaruh Inggris di tanah mereka, terutama penerapan pajak yang tinggi. 

Menurut independent, pada 1765, warga AS menuntut suara di parlemen dan penghapusan pajak, tapi Inggris menolak memenuhi permintaan tersebut. Hal itu memicu protes besar-besaran hingga bentrok di Boston pada 1773 yang dikenal sebagai Boston Tea Party.

Bentrokan itu terjadi sebagai bentuk protes warga terhadap Undang-Undang Pajak Teh. UU tersebut dimanfaatkan Inggris untuk memonopoli penjualan teh di 13 negara bagian AS.

Dahulu, Negeri Paman Sam hanya memiliki 13 negara bagian sebelum terus bertambah setelah kemerdekaan hingga menjadi 50 negara bagian seperti sekarang ini.

Tiga belas negara bagian itu kerap disebut Thirteen Colonies yang terdiri dari Delaware, Pennsylvania, New Jersey, Georgia, Connecticut, Massachusetts Bay, Maryland, South Carolina, New Hampshire, Virginia, New York, North Carolina, dan Rhode Island-Providence Plantations.

Pemberontakan lebih gencar dilakukan di Massachusetts. Wilayah semi-otonom itu dianggap memimpin perlawanan AS terhadap kekuasaan Inggris saat itu.

Dilansir History, Massachusetts membentuk pemerintahan revolusioner bayangan dan membentuk pasukan atau Milisi Patriot untuk memberontak terhadap Inggris.
Ilustrasi perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. (Reuters/Mike Segar)

Pada April 1775, Gubernur Massachusetts dari Inggris, Thomas Gage, memerintahkan pasukan Inggris melakukan perjalanan ke Concord, Massachusetts untuk menemukan gudang senjata Milisi Patriot. Pada 19 April 1775, pasukan Inggris mulai bertempur dengan sekelompok Milisi Patriot di Lexington dan sejak saat itu Revolusi Amerika dimulai.

Sejak itu, gagasan dan keinginan untuk memerdekakan diri sepenuhnya dari Inggris terus menguat di antara sejumlah pemimpin negara bagian AS.

Beberapa negara bagian AS bahkan mulai merumuskan deklarasi kemerdekaan, sebuah tindakan yang dianggap gerakan radikal oleh Inggris saat itu.

Pada pertengahan hingga akhir 1776 semakin banyak pemimpin negara bagian yang mendukung rencana kemerdekaan.

Pada 7 Juni 1776, Kongres Kontinental menggelar rapat di Pennsylvania State House yang kini disebut Independence Hall di Philadelphia.

Dalam rapat tersebut, Delegasi Virginia, Richard Henry Lee, memperkenalkan mosi yang menyerukan kemerdekaan terhadap Inggris.

Setelah debat panjang, mosi Lee tersebut disepakati oleh para 13 pemimpin negara bagian pada 2 Juli 1776. 

Pada 4 Juli 1776, Thirteen Colonies mendeklarasikan kemerdekaan dari kerajaan Inggris yang kemudian disahkan oleh Kongres Kontinental Kedua. Sejak itu, AS resmi lepas dari Inggris, meski sejumlah perang masih terjadi beberapa waktu setelahnya.

[Gambas:Video CNN]
(rds/dea)