Survei: Rumah Mahal, Milenial Pilih Tinggal Bersama Orang Tua

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Minggu, 07/07/2019 04:32 WIB
Survei: Rumah Mahal, Milenial Pilih Tinggal Bersama Orang Tua Ilustrasi. (Istock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Laporan hasil survei Jaringan Investasi Real Estate (Real Estate Investment Network/REIN) menyebutkan bahwa kalangan generasi muda atau milenial di Kanada cenderung memilih tinggal di rumah orang tua. Bahkan, ketika mereka sudah memiliki pasangan dan berkeluarga.

Laporan yang ditulis oleh Don Campbell, Jennifer Hunt, dan Rebecca Wissink dengan sampel para milenial di Kanada itu mengungkap bahwa milenial mengandalkan orang tua karena tidak mampu membeli rumah. Pasalnya, harga rumah terus meningkat dari waktu ke waktu.

Bahkan, menurut laporan yang diterbitkan pada 26 Juni lalu itu, kecenderungan milenial tinggal di rumah orang tua akan berlanjut pada tahun-tahun mendatang.


"Milenial adalah demografis terbesar di Kanada, sehingga mereka mempengaruhi ekonomi dan budaya, termasuk real estate. Ini berarti preferensi mereka akan mempengaruhi tren perumahan di tahun-tahun mendatang," tulis laporan itu, dikutip dari Vancouver is Awesome, media lokal Kanada, Sabtu (6/7).


Selain mengandalkan orang tua, laporan itu menyatakan bahwa milenial yang mampu membeli rumah pun tidak serta merta memiliki kemampuan ekonomi yang cukup. Sebab, beberapa di antaranya terpaksa tetap membeli rumah agar bisa menyewakan ruangan lebih yang dimiliki untuk mendapat pemasukan lebih, misalnya untuk AirBnB.

"Mereka memandang real estate sebagai investasi. Ini juga membantu mereka menghemat uang, membuat mereka lebih cepat ke rumah tetap, dan dapat menghasilkan pendapatan," ungkap laporan itu.

Lebih lanjut, laporan itu menyatakan kemampuan membeli rumah pun sejatinya tidak serta merta menyelesaikan masalah yang menghantui kalangan milenial. Pasalnya, kemampuan pembelian kerap tidak disertai dengan kemampuan untuk melakukan renovasi bila sewaktu-waktu rumah mengalami kerusakan.

Untuk itu, menurut laporan tersebut, sudah saatnya bagi pengembang perumahan agar lebih bisa menyesuaikan bisnis mereka dengan tren kebutuhan rumah dari para milenial. Tak ketinggalan, para pengembang juga perlu memperhatikan aspek integrasi moda transportasi dan fasilitas yang turut dibutuhkan para milenial ketika mencari rumah.


"Pengembang perlu merangkutl tuntutan milenial ini dengan menyediakan perumahan yang mengakomodasi kehidupan multi generasi dan berbagai ruang," terang laporan itu.

Persoalan terbatasnya kemampuan milenial memiliki rumah sendiri tidak hanya terjadi di Kanada, namun juga di Indonesia. Pengamat Tata Kota Yayat Supriyatna mengatakan hal ini terjadi karena harga hunian yang meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan gaji pekerja.

Untuk itu, penting bagi milenial di Indonesia agar bisa segera menyusun strategi demi membeli rumah. Pasalnya, semakin ditunda kemungkinan untuk mendapatkan hunian yang layak semakin berkurang.

"Kalau mau punya rumah, milenial itu segera menikah supaya biaya pembelian rumah tidak ditanggung sendiri," katanya.


[Gambas:Video CNN] (uli/stu)