"Seperti yang berulang kali diumumkan sebelumnya, Iran tidak berniat perang melawan negara mana pun, tetapi telah belajar dengan baik bagaimana cara mempertahankan diri," kata Mousavi seperti dikutip kantor berita Mehr dan dilansir Reuters, Senin (8/7).
"Dalam situasi saat ini, apa yang paling penting secara strategis adalah menghadapi perang psikologis dari musuh, yang sebagian besar mengandung aspek budaya dan intelektual," paparnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mousavi menuturkan musuh ingin mengganggu proses pengambilan keputusan para pejabat tinggi Iran.
"Iran lebih baik berhati-hati karena kalian memperkaya uranium untuk satu tujuan, dan saya tidak akan mengatakan kepada kalian tujuan itu. Namun, tujuan itu tidak baik. Mereka lebih baik berhati-hati," ujar Trump, Minggu (7/7).
Ketegangan antara AS-Iran kian memburuk terutama setelah Washington menarik diri keluar dari perjanjian nuklir 2015 pada 2018 lalu. Pakta nuklir era Barack Obama itu juga kian berada di ambang kehancuran setelah Iran melanjutkan kembali program nuklirnya.
Ketegangan kedua negara diperkeruh setelah Iran menembak jatuh drone milik AS beberapa pekan lalu. Iran menganggap pesawat nirawak itu melanggar kedaulatan karena memasuki wilayahnya tanpa izin.
Sementara itu, AS berkeras bahwa manuver drone jutaan dolarnya itu terjadi di wilayah udara internasional.
[Gambas:Video CNN]
AS juga menuding Iran berada di balik sabotase kapal tanker Arab Saudi di Teluk Oman pada Juni lalu dan di perairan lepas Uni Emirat Arab pada Mei lalu. Teheran berkeras membantah tuduhan tersebut.
Sejak ketegangan kedua negara memanas, AS juga telah mengirim pasukan tambahan, termasuk kapal induk dan dua pesawat pengebom B-52 ke Timur Tengah. (rds/ayp)