Iran Sebut Tak Akan Provokasi Perang, Tetapi Siap Bertahan

CNN Indonesia | Selasa, 09/07/2019 01:36 WIB
Iran Sebut Tak Akan Provokasi Perang, Tetapi Siap Bertahan Ilustrasi pasukan Garda Revolusi Iran. (AFP/Chavosh Homavandi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Panglima Korps Garda Revolusi Iran, Mayjen Abdolrahim Mousavi, menegaskan negaranya tidak berniat untuk perang dengan siapa pun. Namun, dia menyatakan mereka hanya akan mempertahankan diri.

"Seperti yang berulang kali diumumkan sebelumnya, Iran tidak berniat perang melawan negara mana pun, tetapi telah belajar dengan baik bagaimana cara mempertahankan diri," kata Mousavi seperti dikutip kantor berita Mehr dan dilansir Reuters, Senin (8/7).
Dalam kesempatan itu, Mousavi menuturkan Iran terus didera serangkaian ancaman. Untuk itu, menurutnya, Iran tidak cukup bertumpu hanya pada kemampuan militer saja untuk melindungi diri.

"Dalam situasi saat ini, apa yang paling penting secara strategis adalah menghadapi perang psikologis dari musuh, yang sebagian besar mengandung aspek budaya dan intelektual," paparnya.


Mousavi menuturkan hari ini perang psikologis yang tengah dihadapi Iran berbentuk "strategi hibrida" yang terdiri dari sanksi, ancaman, dan operasi psikologis "terutama yang menyasar pejabat-pejabat tinggi Iran."

Mousavi menuturkan musuh ingin mengganggu proses pengambilan keputusan para pejabat tinggi Iran.
Pernyataan Mousavi muncul tak lama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan Iran agar berhati-hati setelah negara pimpinan Presiden Hassan Rouhani itu mengumumkan bakal melanjutkan pengayaan uranium.

"Iran lebih baik berhati-hati karena kalian memperkaya uranium untuk satu tujuan, dan saya tidak akan mengatakan kepada kalian tujuan itu. Namun, tujuan itu tidak baik. Mereka lebih baik berhati-hati," ujar Trump, Minggu (7/7).

Ketegangan antara AS-Iran kian memburuk terutama setelah Washington menarik diri keluar dari perjanjian nuklir 2015 pada 2018 lalu. Pakta nuklir era Barack Obama itu juga kian berada di ambang kehancuran setelah Iran melanjutkan kembali program nuklirnya.

Ketegangan kedua negara diperkeruh setelah Iran menembak jatuh drone milik AS beberapa pekan lalu. Iran menganggap pesawat nirawak itu melanggar kedaulatan karena memasuki wilayahnya tanpa izin.

Sementara itu, AS berkeras bahwa manuver drone jutaan dolarnya itu terjadi di wilayah udara internasional.

[Gambas:Video CNN]

AS juga menuding Iran berada di balik sabotase kapal tanker Arab Saudi di Teluk Oman pada Juni lalu dan di perairan lepas Uni Emirat Arab pada Mei lalu. Teheran berkeras membantah tuduhan tersebut.

Sejak ketegangan kedua negara memanas, AS juga telah mengirim pasukan tambahan, termasuk kapal induk dan dua pesawat pengebom B-52 ke Timur Tengah. (rds/ayp)