Kilas Internasional

Malaysia Dikepung Asap RI hingga Jasad Mahasiswi Ditemukan

CNN Indonesia | Jumat, 09/08/2019 07:45 WIB
Malaysia Dikepung Asap RI hingga Jasad Mahasiswi Ditemukan Kabut Asap di Putrajaya, Malaysia. (REUTERS/Olivia Harris)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kabar internasional pada kamis (8/8) diramaikan dengan berbagai isu, mulai dari Malaysia yang masih akan dihantui kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan dari Sumatera, Indonesia hingga penemuan jasad mahasiswi yang lompat dari pesawat.

1. Malaysia Prediksi Masih Akan Dikepung Kabut Asap Indonesia

Badan Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) menyatakan ada kemungkinan besar kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan dari Sumatera akan tetap terjadi di Negeri Jiran pada pekan ini. Penyebabnya adalah arah angin muson masih bertiup ke arah barat daya.


"Dari hasil pemantauan terakhir masih terlihat kabut asap tipis di wilayah semenanjung dan sebelah barat negara bagian Sarawak, karena ada penambahan titik api di Riau, Sumatera Selatan, dan Kalimantan," kata Direktur Jenderal MetMalaysia, Jailan Simon, seperti dilansir asiaone, Kamis (8/8).


2. Gempa 6 SR Guncang Taiwan, 2.000 Bangunan Mati Listrik

Gempa berkekuatan 6 Skala Richter mengguncang pesisir timur laut Taiwan pada Kamis (8/8) hingga memutus aliran listrik ke setidaknya 2.000 bangunan.

Guncangan ini dilaporkan berpusat di dekat wilayah timur laut Yilan dengan kedalaman 22 kilometer di bawah tanah.

[Gambas:Video CNN]

Seorang saksi mata Reuters mengatakan gempa terasa hingga pusat Taipei dan mengguncang gedung-gedung pencakar langit di kota tersebut.

3. Jasad Mahasiswi yang Lompat dari Pesawat Ditemukan di Hutan

Kepolisian Madagaskar menyatakan mahasiswi Universitas Cambridge, Inggris yang lompat dari pesawat sudah ditemukan.

Jasad gadis bernama Alana Cutland itu ditemukan dalam kondisi tidak utuh di hutan Mahadrodroka, Desa Anjajavy oleh penduduk setempat, pada Selasa waktu setempat (6/8).


"Penduduk desa akhirnya menemukan jasad Alana Cutland setelah dua minggu pencarian," kata kepala penyidik Spinola Edvin Nomenjanahary dikutip AFP. (dea)