Pemberontakan di Yaman, 40 Orang Tewas dan 260 Lain Luka-luka

CNN Indonesia | Senin, 12/08/2019 02:45 WIB
Pemberontakan di Yaman, 40 Orang Tewas dan 260 Lain Luka-luka Ilustrasi Yaman. (REUTERS/Mohamed al-Sayaghi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Divisi Koordinator Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melaporkan sebanyak 40 orang tewas dan 260 lainnya luka-luka di kota Aden, Yaman selatan, sejak 8 Agustus 2019. Tepatnya ketika tahapan terakhir pertempuran meletus.

Koalisi yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi di Aden pada Minggu (11/9), untuk mendukung pemerintah Yaman. Hal itu dilakukan setelah separatis di wilayah selatan secara efektif mengambil alih kota pelabuhan, merusak aliansi penyerang gerakan Houthi yang selaras dengan Iran.

Pertempuran yang pecah pada 8 Agustus itu dilakukan untuk mengendalikan kota pelabuhan. Hal ini berfungsi sebagai wilayah sementara pemerintah Yaman yang didukung internasional. Pada akhirnya, pertempuran menewaskan 40 orang dan melukai 260 orang.

"Sangat menyedihkan bahwa selama Idul Adha (hari libur Muslim) keluarga berduka atas kematian orang yang mereka cintai alih-alih merayakan bersama dalam damai," kata Lise Grande, Koordinator Kemanusiaan PBB di Yaman, sepert dikutip dari Reuters, Minggu (11/8).


Menurut dia, perhatian utama PBB saat ini ialah mengirim tim medis untuk menyelamatkan korban terluka. Pihaknya juga mengaku khawatir dengan laporan bahwa warga sipil ada yang terperangkap di rumah mereka, hingga kehabisan makanan dan air.

Koalisi Muslim Sunni yang dipimpin Arab Saudi mengatakan pihaknya menyerang daerah yang menimbulkan ancaman langsung kepada pemerintah Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Sebagai tanda dukungan untuk presiden Yaman yang terkepung, Raja Arab Saudi Salman bertemu Hadi pada Minggu (11/8) di wilayah Mekah. Tepatnya di sela-sela perjalanan haji. Pertemuan itu membahas upaya untuk mencapai keamanan dan stabilitas di Yaman.


Bentrokan Aden dimulai setelah separatis menuduh partai Islam yang bersekutu dengan Hadi terlibat dalam serangan rudal terhadap parade militer pasukan selatan di Aden.

Para pengamat mengatakan Abu Dhabi dan Riyadh, sekutu Muslim Sunni yang bersatu melawan Iran Syiah, akan bekerja sama untuk mengatasi krisis. Hal itu akan dilakukan meskipun UEA pada Juni mengurangi kehadiran militernya di Yaman, ketika tekanan Barat meningkat untuk mengakhiri perang.

Perang telah menghidupkan kembali ketegangan lama antara Yaman Utara dan Yaman Selatan. Padahal sebelumnya kedua wilayah merupakan negara terpisah yang bersatu menjadi satu negara pada tahun 1990 di bawah mantan Presiden Ali Abdullah Saleh yang terbunuh.

[Gambas:Video CNN]


(Reuters/lav)