Salah satu penduduk El Paso yang mengikuti pelatihan itu adalah Guadalupe Segovia (35). Ibu dengan dua anak itu menyatakan suaminya yang merupakan seorang tentara sudah memintanya belajar menggunakan senjata api sejak lama.
Segovia menyatakan kali ini dia baru merasakan perlunya pengetahuan tentang senjata api dan menembak. Sebab dia tersentak karena peristiwa berdarah itu terjadi dekat rumahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu toko senjata api terbesar di El Paso, Gun Central, memang memberikan pelatihan menembak bagi pelanggannya. Belakangan mereka mengaku jumlah peserta kursus senjata api itu melonjak dua kali lipat.
"Kalau ada kejadian seperti itu paling hanya satu orang yang menembak, 99 lainnya pasti bakal lari," kata McIntyre.
McIntyre menyatakan biasanya peserta pelatihan menembak itu paling banyak 20 orang dalam sehari. Saat ini, kata dia, pesertanya melonjak menjadi sampai 50 orang, dan kebanyakan mereka dari etnis Hispanik.
Meski demikian, Segovia menyatakan seharusnya pemilik senjata tidak menyalahgunakan, yang berakhir menghilangkan nyawa orang lain. Bagi dia senjata api adalah sekedar alat untuk mempertahankan diri dari ancaman.
[Gambas:Video CNN]
Tersangka penembakan di El Paso, Patrick Crusius, mengaku memang menargetkan etnis Hispanik ketika melakukan perbuatannya. Sebuah manifesto yang muncul di internet mengungkap motivasinya melakukan penembakan yakni mengutuk arus pendatang keturunan dan budaya Spanyol (Hispanik) di Amerika Serikat yang dia anggap sebagai sebuah penyerbuan untuk menguasai negaranya. Kebanyakan dari para korban meninggal diketahui memiliki nama-nama Hispanik. (ayp/ayp)