Warga El Paso Ikut Kursus Menembak Usai Tragedi Penembakan

CNN Indonesia | Kamis, 15/08/2019 06:39 WIB
Warga El Paso Ikut Kursus Menembak Usai Tragedi Penembakan Warga El Paso, Texas mengheningkan cipta bagi 22 korban tewas dalam peristiwa penembakan. (AP Photo/John Locher)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penduduk serta keturunan dan peranakan Hispanik di Kota El Paso, Texas, Amerika Serikat kini berbondong-bondong mengikuti kursus menembak. Hal itu terjadi setelah mereka menyadari kemampuan itu penting untuk membela diri, setelah peristiwa penembakan di gerai swalayan Walmart setempat yang merenggut nyawa 22 orang.

Salah satu penduduk El Paso yang mengikuti pelatihan itu adalah Guadalupe Segovia (35). Ibu dengan dua anak itu menyatakan suaminya yang merupakan seorang tentara sudah memintanya belajar menggunakan senjata api sejak lama.
Meski begitu, Segovia mengaku tetap merasa ngeri jika harus berurusan dengan senjata api. Padahal, di wilayah tempat tinggalnya warga dibolehkan membawa senjata api asal tidak terlihat dari luar.

Segovia menyatakan kali ini dia baru merasakan perlunya pengetahuan tentang senjata api dan menembak. Sebab dia tersentak karena peristiwa berdarah itu terjadi dekat rumahnya.


"Saya tetap merasa ketakutan, bahkan meski saya harus membawa senjata api," kata Segovia.

Salah satu toko senjata api terbesar di El Paso, Gun Central, memang memberikan pelatihan menembak bagi pelanggannya. Belakangan mereka mengaku jumlah peserta kursus senjata api itu melonjak dua kali lipat.
Manajer Gun Central, Michael McIntyre, menaksir sebanyak 99 persen penduduk El Paso tidak mahir menembak.

"Kalau ada kejadian seperti itu paling hanya satu orang yang menembak, 99 lainnya pasti bakal lari," kata McIntyre.

McIntyre menyatakan biasanya peserta pelatihan menembak itu paling banyak 20 orang dalam sehari. Saat ini, kata dia, pesertanya melonjak menjadi sampai 50 orang, dan kebanyakan mereka dari etnis Hispanik.

Meski demikian, Segovia menyatakan seharusnya pemilik senjata tidak menyalahgunakan, yang berakhir menghilangkan nyawa orang lain. Bagi dia senjata api adalah sekedar alat untuk mempertahankan diri dari ancaman.

[Gambas:Video CNN]

Tersangka penembakan di El Paso, Patrick Crusius, mengaku memang menargetkan etnis Hispanik ketika melakukan perbuatannya. Sebuah manifesto yang muncul di internet mengungkap motivasinya melakukan penembakan yakni mengutuk arus pendatang keturunan dan budaya Spanyol (Hispanik) di Amerika Serikat yang dia anggap sebagai sebuah penyerbuan untuk menguasai negaranya. Kebanyakan dari para korban meninggal diketahui memiliki nama-nama Hispanik. (ayp/ayp)