Warga Rusia Dipindahkan Usai Ledakan Tes Senjata Nuklir

CNN Indonesia | Kamis, 15/08/2019 10:22 WIB
Warga Rusia Dipindahkan Usai Ledakan Tes Senjata Nuklir Ilustrasi orang mengenakan masker antiradiasi. (REUTERS/Maxim Shemetov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah desa Nyonoksa,  Rusia dilaporkan mengevakuasi penduduk selepas ledakan saat uji mesin rudal berbahan bakar nuklir. Akibat peristiwa itu, tingkat radiasi di Kota Severodinsk mendadak melonjak 16 kali lipat.

Meski demikian, Gubernur Arkhangelsk, Igor Orlov, membantah kabar evakuasi itu. Padahal menurut pemerintah pusat, mereka mengirimkan kereta khusus yang disebut antiradiasi untuk mengangkut warga setempat.
"Tidak ada evakuasi. Itu sangat absurd," kata Igor, seperti dilansir The Guardian, Kamis (15/8).

Insiden itu dilaporkan menewaskan lima pakar di lokasi kejadian. Para ahli menduga militer Rusia sedang menguji mesin pendorong rudal berkecepatan hipersonik dengan bahan bakar isotop nuklir.


Mereka diduga membuat reaktor nuklir mini sebagai sumber tenaga rudal itu. Namun, para ahli masih meragukan tingkat keamanan.

Akibat insiden di lokasi rahasia itu, lima orang meninggal. Tingkat radiasi gamma di Severodinsk juga dilaporkan meningkat tajam sampai 16 kali lipat selama dua jam selepas kejadian.

Badan Tenaga Atom Rusia (Rosatom) membenarkan terjadi ledakan ketika uji coba sumber tenaga isotop nuklir dalam mesin pendorong rudal berbahan bakar cair.
Sampai saat ini pemerintah Rusia tetap tidak berkomentar soal kejadian itu. Pihak angkatan bersenjata membantah ada peningkatan radiasi dan menyatakan peristiwa itu cuma sekedar ledakan roket.

Di sisi lain, Rusia menutup sebuah teluk di Laut Putih, yang menjadi lokasi ledakan yang diduga berlangsung di anjungan lepas pantai. Mereka juga mengutus kapal Serebryanak yang digunakan untuk memeriksa kandungan radioaktif.

Warga setempat dilaporkan berbondong-bondong ke apotek untuk membeli pil penangkal radiasi, Iodide. Bahkan, saat terjadi ledakan, Kementerian Penanggulangan Bencana Rusia sempat menyiarkan peringatan supaya warga mewaspadai badai, yang sebenarnya tidak pernah terjadi.



Menurut kantor berita Tass, tim medis yang pertama kali menangani korban dalam kejadian itu dilarikan ke Moskow untuk diperiksa kesehatannya. Mereka dilaporkan mengenakan pakaian khusus antiradiasi dan alat pernapasan setelah terjadi insiden. Mereka juga dilaporkan diminta meneken perjanjian supaya tutup mulut tentang insiden yang terjadi.

[Gambas:Video CNN] (ayp/ayp)