Bubarkan Massa Anti-G7, Polisi Prancis Gunakan Gas Air Mata

Reuters, CNN Indonesia | Minggu, 25/08/2019 13:31 WIB
Bubarkan Massa Anti-G7, Polisi Prancis Gunakan Gas Air Mata Petugas polisi Prancis menembakkan gas air mata untuk membubarkan aksi unjuk rasa di KTT G7 di Prancis. (Foto: AP Photo/Bob Edme)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi anti huru-hara Prancis pada Sabtu (24/8) dilaporkan menyemprotkan air dan gas air mata guna membubarkan massa yang berkumpul di Bayonne, dekat Biarritz, lokasi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 selama tiga hari digelar.

Dalam aksi ini, empat petugas polisi mengalami luka ringan, setelah massa menembakkan mortir rakitan di dekat aksi protes anti-G7 di Hendaye. Polisi menangkap 17 orang lantaran menutupi wajah mereka.

Helikopter polisi berputar-putar saat puluhan pengunjuk rasa melemparkan batu, meneriakkan slogan dan menyalahgunakan barisan polisi di pusat kota bersejarah Basque.


Massa meneriakkan "Semua orang benci polisi" dan "Anti, anti, antikapitalisme" selama aksi di perbatasan antara Prancis dan Spanyol, yang berubah menjadi lebih brutal.

Unruk menghalau aksi ini, Prancis mengerahkan lebih dari 13.000 polisi guna memastikan massa tidak mendekati Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sejumlah pemimpin negara lainnya.

Ribuan aktivis antiglobalisasi, separatis Basque, dan pengunjuk rasa "rompi kuning" berjalan kaki dari Kota Prancis Hendaye menuju Kota Irun di Spanyol, dengan membentangkan spanduk yang menyeru aksi iklim, hak-hak gay dan contoh ekonomi yang lebih adil.

"Para pemimpin kapitalis utama ada di sini dan kami harus menunjukkan kepada mereka bahwa pertarungan berlanjut," kata peserta aksi unjuk rasa Alain Missana.

"Lebih banyak uang bagi yang kaya dan yang miskin tak memiliki apa-apa. Kami melihat hutan Amazon terbakar dan Artik mencair. Para pemimpin akan mendengar kita," tutupnya.

KTT G7 yang digelar di Prancis pada akhir pekan ini diramalkan akan berakhir tanpa pernyataan bersama, termasuk untuk mengatasi ketegangan dagang yang sedang berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dengan China yang terjadi setahun belakangan ini.

Ketiadaan pernyataan bersama tersebut disampaikan oleh seorang pejabat pemerintah Jepang yang tahu persis dengan pertemuan tersebut. Kalau kemungkinan tersebut terjadi, pertemuan besok akan menjadi forum KTT G7 pertama yang berakhir tanpa pernyataan bersama dimulai perkumpulan pada 1975.

Kemungkinan tersebut juga menggarisbawahi keretakan pendapat antara negara G7 terkait kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

"Sangat penting bagi semua orang untuk menciptakan pemahaman bersama melalui debat yang menyeluruh. Tetapi sulit untuk mengirim pesan ke seluruh dunia ketika sebuah komunike tidak akan dikeluarkan," kata pejabat itu seperti dikutip dari Reuters, Selasa (20/8).
(mik)


ARTIKEL TERKAIT