200 Ribu Pengungsi Rohingya Kenang Eksodus dari Myanmar

Tim, CNN Indonesia | Senin, 26/08/2019 02:44 WIB
200 Ribu Pengungsi Rohingya Kenang Eksodus dari Myanmar Sebanyak 200 ribu warga etnis Rohingya berunjuk rasa di sebuah kamp pengungsian Bangladesh pada Minggu (25/8). (REUTERS/Danish Siddiqui)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 200 ribu warga etnis Rohingya berunjuk rasa di sebuah kamp pengungsian Bangladesh pada Minggu (25/8). Aksi ini untuk menandai dua tahun sejak mereka melarikan diri dari pembantaian yang dilakukan oleh pasukan Myanmar.

Mengutip AFP, sekitar 740 ribu warga etnis Rohingya melarikan diri pada Agustus 2017. Mereka bergabung dengan warga Rohingya lainnya yang sudah kabur sebelumnya.

Pada aksi unjuk rasa hari ini, mulai dari anak-anak, wanita berjilbab, dan pria berjaket panjang berteriak "Tuhan Maha Besar, Rohingya Panjang Umur". Mereka mendengungkan itu seraya berbaris di kamp pengungsi terbesar di dunia untuk memperingati "Hari Genosida".


Di bawah terik matahari, ribuan warga Rohingya ini juga menyuarakan protesnya lewat lagu populer dengan lirik "Dunia tidak mendengarkan kesengsaraan Rohingya".

"Saya datang ke sini untuk mencari keadilan atas pembunuhan putra saya. Saya akan terus mencari keadilan sampai nafas terakhir saya," kata Tayaba Khatun, pria berusia 50 tahun, dikutip pada Minggu (25/8).

Pemimpin Rohingya Mohib Ullah mengatakan warga etnis Rohingya ingin kembali ke rumah. Namun, hal itu hanya bisa dilakukan setelah mendapatkan kewarganegaraan, kepastian keamanan, dan izin untuk menetap di desa mereka.

"Kami telah meminta pemerintah Myanmar untuk berdialog, tetapi kami belum mendapat tanggapan dari mereka. Kami dipukuli, dibunuh, dan diperkosa di Rakhine. Tapi tetap saja itu rumah kami, kami ingin kembali," ucap Ullah dalam rapat umum.

Sejauh ini keamanan di kamp Kutupalong, pemukiman pengungsian terbesar di dunia, telah diperketat. Hal ini untuk menghindari kekerasan terhadap warga Rohingya.

"Ratusan polisi, tentara, dan penjaga perbatasan telah dikerahkan untuk mencegah kekerasan," kata Kepala Polisi Abul Monsur.

Unjuk rasa ini terjadi tiga hari setelah upaya pemulangan pengungsi gagal dilakukan. Pejabat Bangladesh dan PBB sudah mewawancarai 300 keluarga, tapi tak satu pun dari mereka yang ingin kembali ke Myanmar karena takut akan ditempatkan di kamp khusus orang-orang yang kehilangan tempat tinggal.

[Gambas:Video CNN] (aud/end)