Kapal Perang AS Dekati LCS Saat Tegang dengan China

CNN Indonesia | Jumat, 30/08/2019 11:40 WIB
Kapal Perang AS Dekati LCS Saat Tegang dengan China Ilustrasi. (REUTERS/Toru Hanai)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kapal perang milik Amerika Serikat dilaporkan berlayar di dekat dua pulau yang diperebutkan di Laut China Selatan (LCS). Pelayaran itu disebut sebagai bagian dari "operasi kebebasan navigasi" yang dilakukan secara rutin.

Dilansir dari CNN, Kamis (29/8), kapal perusak rudal USS Wayne E. Meyer itu berlayar sejauh 22 kilometer dari pulau buatan Fiery Cross dan Mischief Reef yang diklaim milik China.

Menurut jubir Angkatan Laut AS, Komandan Reann Mommsen, pelayaran pada Rabu (28/8) tersebut dilakukan untuk menantang klaim maritim yang berlebihan dan menjaga akses ke perairan berdasarkan hukum internasional yang berlaku.



"Amerika Serikat akan terbang, berlayar, dan beroperasi sesuai apa yang disepakati dalam hukum internasional. Operasi kebebasan navigasi bukan tentang satu negara maupun tentang pernyataan politik mereka," ujarnya.

Jubir Komando Teater Selatan China Li Huanmin menuduh operasi tersebut sebagai bentuk perundungan terkait navigasi yang membahayakan kedamaian dan stabilitas Laut China Selatan.

AS menuduh China sejak lama terkait pemasangan fasilitas militer di dua pulau buatan tersebut.

[Gambas:Video CNN]

Pejabat Kementerian Pertahanan AS menyatakan kapal militer China mengikuti kapal perang AS selama operasi berlangsung namun semua interaksi berjalan dengan aman dan profesional.

Dua kapal perang AS pernah melakukan operasi di dekat Kepulauan Paracel, yang juga diklaim milik China, di bagian utara Laut China Selatan pada akhir Mei lalu.

Terkait operasi pada bulan Mei, jubir China Lu Kang memberi peringatan kepada AS untuk segera menghentikan berbagai tindakan provokatif yang dapat mengganggu kedaulatan dan keamanan China.

Media pemerintah setempat memberitakan sebuah laporan yang mengutip seorang analis, menyebut AS dengan sengaja berniat membuat ketegangan.

"Selama AS terus mengirim kapal perang ke Laut China Selatan, ia sudah menjadi penjahat utama di wilayah tersebut," kata peneliti senior Institut Penelitian Studi Militer Angkatan Laut China Zhang Junshe kepada Global Times.


Laporan tersebut juga mengutip pernyataan Tian Shichen, mantan kapten militer Angkatan Laut China, yang menyarankan China untuk bergerak lebih cepat dalam melaksanakan sistem pertahanan di berbagai pulau dan terumbu karang di wilayah tersebut.

Hal itu dipicu tindakan AS di awal minggu ini terkait tindakan China di Laut China Selatan.

Pada Senin (26/8), Kementerian Pertahanan AS mengaku sangat khawatir dengan usaha China untuk melanggar ketentuan internasional di sepanjang wilayah Indo-Pasifik.

"China telah melanjutkan gangguan koersifnya terhadap aktivitas tambang minyak dan gas yang sudah berjalan sejak lama. Mereka tidak akan memenangkan kepercayaan dari negara tetangga maupun menghargai komunitas internasional dengan mempertahankan taktik perundungan," ucap dia.


Otoritas China telah melarang AS mengunjungi pelabuhan Qingdao pada Rabu dua minggu lalu, setelah sebelumnya juga melarang dua kunjungan kapal perang AS ke Hong Kong.

Hubungan China dan AS masih meregang setelah adanya perang dagang yang meliputi kenaikan tarif yang berpengaruh pada pasar keuangan dunia. (fls/dea)