Cemas Para Pengungsi yang Masih Tertinggal di Kalideres

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 31/08/2019 19:43 WIB
Cemas Para Pengungsi yang Masih Tertinggal di Kalideres Kawasan gedung eks Komando Distrik Militer (Kodim) di Kalideres, Jakarta Barat, yang digunakan untuk menampung para pengungsi. (CNN Indonesia/Nurika Manan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Puluhan tenda masih terpacak di kawasan gedung eks Komando Distrik Militer (Kodim) di Kalideres, Jakarta Barat. Satu tendanya berisi satu keluarga beserta anak-anak.

Gelaran tikar juga tampak dibentangkan. Sejumlah ibu duduk di atasnya. Sementara ransel-ransel mereka masih digantung di dinding bangunan.

Gedung dua lantai itu masih diisi oleh para pengungsi asing. Padahal, Sabtu (31/8) ini seharusnya jadi tenggat terakhir mereka mendiami lokasi pengungsian tersebut.


Kendati begitu, hingga jelang malam sebagian pengungsi masih bertahan.

"Masih ada sekitar 200-an penghuni, mayoritas asal Afganistan," kata Muhammad Nazaru, seorang pengungsi asal Afghanistan ketika ditemui CNNIndonesia.com di lokasi pengungsian di Kalideres, Jakarta Barat, Sabtu (31/8).

Berdasar papan bertulis Data Pengungsi UNHCR yang terpampang di gerbang masuk gedung, tercatat 1.145 penghuni meliputi orang dewasa dan anak-anak. Delapan puluh persen atau sekitar 920 orang pengungsi berasal dari Afghanistan, sementara sisanya merupakan warga asal Somalia, Sudan, Pakistan, Ethiopia, Iraq, Suriah, Yaman, Bangladesh dan Eritrea.

"Saya tidak mungkin ke Indonesia kalau negara saya Afghanistan, aman. Di sini panas, di dalam tenda, bayangkan saja. Tapi kami tetap mau bertahan, karena tidak ada lagi pilihan, artinya kami benar-benar butuh bantuan," ungkap Nazaru.

Ia mulai tinggal di Indonesia sejak 2013, berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Nazaru sempat pula ikut bermalam di depan Rumah Detensi Imigrasi Kalideres sebelum dipindahkan ke lokasi pengungsian ini.

"Di sini kami tidak mendapatkan pendidikan, hidup yang layak, dan layanan kesehatan," ungkap laki-laki yang kabur dari negaranya karena konflik yang tak kunjung usai tersebut.

Menurut dia, UNHCR telah menawarkan uang bantuan. Tapi ia menanggap nominalnya tak masuk akal jika digunakan untuk menyambung hidup. Meski hanya untuk sementara.

"Beberapa orang di sini sudah ada namanya [untuk menerima uang bantuan], tapi tidak mau. Karena kami diberi Rp1,5 juta atau Rp1,3 juta untuk menyewa rumah, makan, dan hidup dengan tiga atau empat orang anggota keluarga. Dan itu tidak cukup," keluh dia.

Pengungsi Sampai ke Trotoar

Lelaki yang mendiami pengungsian bersama adiknya itu berharap bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak. Dengan begitu dia dapat mempersiapkan rencana untuk pergi ke negara lain dan, memulai hidup baru.

Ia menganggap Indonesia saat ini hanya menjadi negara transit. Tapi karena nasib yang terkatung-katung, dia kesulitan untuk menyusun rencana berpindah.

"Kami sudah kehilangan banyak hal dari negara kami, kami tidak ingin apa-apa, kami hanya perlu kedamaian," kata Nazaru.

Sebelumnya, ada lebih dari 1.000 orang yang harus berbagi ruang. Ada yang menempati tenda-tenda, ada pula yang menggelar tikar dan menjadikan bentangan kain sebagai sekat pemisah.

Pakaian dijemur dengan gantungan tali seadanya. Sementara kegiatan mencuci perkakas dilakukan di beberapa titik mana suka.

Para pengungsi juga mengeluhkan kesulitan untuk mandi dan buang hajat. Berdasar pemantauan CNNIndonesia, di gedung itu memang terdapat lebih dari dua toilet--termasuk yang portable. Namun menurut pengakuan penghuni, hanya satu yang berfungsi.

Beberapa pengungsi yang tak mendapat tempat di dalam gedung tampak menghamparkan alas tidur di trotoar. Tenda-tenda pengungsi di pinggiran jalan itu dibangun dengan berlatar spanduk penolakan warga yang dijereng di pagar gedung.

Sebagian warga di sekitar lokasi mengungkapkan penolakan melalui spanduk-spanduk di beberapa titik. Salah satunya misalkan bertulis: Kami Warga Komplek Daan Mogot Baru Menolak Tempat Penampungan Imigran di Komplek Kami.

Nazaru dan pengungsi lain memaklumi kekesalan warga sekitar. Tapi ia juga tak tahu harus melakukan apa.

"Kami juga tidak ingin seperti ini. Jika saja negara kami aman, seperti Indonesia, kami tidak mungkin seperti ini. Seandainya Indonesia tidak aman, apa kalian tetap mau tinggal di Indonesia?" kata Ziyah, pencari suaka asal Afghanistan.

Saat CNNIndonesia.com ke lokasi, tidak ada penjaga yang bisa dikonfirmasi mengenai proses pemindahan para pengungsi. Hanya saja polisi setempat mengungkapkan sebagian pengungsi sudah dipindahkan secara bertahap sejak Sabtu (31/8) pagi dan dilanjutkan pada Senin (2/8) depan.

"Ada yang dibawa ke Tebet, ada yang ke Bogor. Nanti dicarikan tempat lagi," kata seorang petugas.

Sebelumnya para pengungsi atau pencari suaka dari UNHCR hanya akan ditampung Dinas Sosial DKI Jakarta hingga pengujung Agustus 2019. Hal ini diungkapkan Ketua DPRD DKI jakarta Edi Marsudi usai bertemu dengan perwakilan UNHCR dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Menurut dia, seharusnya yang menangani masalah ini adalah UNHCR selaku Badan PBB untuk urusan pengungsi. Ia mengakui tak bisa lebih lama membantu penanganan pengungsi asing ini lantaran masalah pendanaan. Edi melanjutkan, penyelesaian secara administratif akan diurus pemerintah pusat. (ika/vws)