Para pengungsi asal Afghanistan ini datang membawa spanduk berisi tuntutan mereka dan poster serta foto-foto yang mereka sebut sebagai tindakan pembantaian terhadap suku Hazara. Aksi unjukrasa ini juga diikuti ibu-ibu dan anak-anak asal Afganistan.
"Kami berkumpul di sini, kami semua berasal dari satu suku yakni suku Hazara. Kami berasal dari Afghanistan. Kami ingin sampaikan suara ke dunia internasional atas pembantaian yang dialami suku Hazara. Kami sekitar 200 orang di sini, satu suku," kata Muhammad Zuma, juru bicara aksi tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keluarga kami kenapa dibunuh di negara kami. Pemerintah tak peduli, UNHCR tak peduli, PBB tak perduli, semua dunia sudah diam. Apakah kami bukan manusia? Kami juga manusia seperti yang lain. kami mau tinggal seperti yang lain di dunia ini. Dunia ini bukan punya siapapun. Semua punya hak untuk tinggal di dunia ini," urainya.
Para pengungsi ini berharap organisasi-organisasi internasional HAM menghubungi Kantor PBB di Afghanistan untuk menghentikan pembunuhan Suku Hazara. Bukan hanya ke Kantor PBB, mereka juga ingin agar organisasi-organisasi internasional HAM menghubungi Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani.
Dia menjelaskan para pengungsi Afghanistan yang berunjuk rasa ini merupakan pengungsi yang sudah tinggal di Indonesia sekitar 5 hingga 7 tahun. Mereka menunggu proses pengiriman ke negara penampung seperti Amerika, Kanada, Australia dan New Zealand oleh pihak United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) selaku badan PBB yang menangani persoalan pengungsi internasional.
Hal yang sama disampaikan oleh salah seorang pengungsi Afghanistan lainnya Yassin. Menurutnya saat ini aksi pembunuhan terhadap suku Hazara masih terus terjadi. Hal ini membuat beberapa keluarga mereka di sana juga terpaksa melarikan diri untuk menghindari pembantaian.
"Yang kami dapat kabar, saat ini keluarga kami di sana ada yang lari dan tinggal di gunung. Sekarang di negara kami musim salju. Sangat sulit tinggal di gunung kalau musim salju. Kami berharap komunitas dunia internasional dapat memberikan perhatiannya kepada kami," paparnya. (fnr) (fnr/eks)