Hanya saja, dengan populasi sebanyak 5,6 juta yang diperkirakan akan tumbuh dengan stagnan di tahun-tahun mendatang, pihak berwenang pun mulai mempertimbangkan cara menggunakan ruang di bawah tanah dengan lebih baik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami memiliki kebutuhan yang semakin meningkat akan lahan industri, komersial, perumahan dan hijau di Singapura," tambahnya.
Menurut rancangan rencana pengembangan yang dirilis pada Maret lalu, pihak berwenang ingin menempatkan utilitas, transportasi serta fasilitas penyimpanan dan industri di bawah tanah untuk membebaskan tanah di permukaan.
Namun, disebutkan belum ada rencana untuk menempatkan perumahan di bawah tanah.
Sedangkan Montreal di Kanada memiliki "Underground City", sebuah jaringan terowongan yang menghubungkan titik-titik penting di bawah tanah.
Sebelumnya, metode ekspansi utama Singapura adalah reklamasi tanah dari laut, yang telah meningkatkan luas negara itu lebih dari seperempat menjadi 720 kilometer persegi, dengan sebagian besar pertumbuhan terjadi sejak kemerdekaan pada 1965. Namun, reklamasi menjadi lebih mahal karena perpindahan ke perairan yang lebih dalam, sementara negara-negara yang dulu menjual pasir ke Singapura telah menghentikan ekspor karena masalah lingkungan.
Namun, membangun bawah tanah di Singapura menimbulkan tantangan - konstruksi sulit di bawah lingkungan yang sudah urbanisasi sementara proyek-proyek baru akan bersaing untuk ruang dengan fasilitas bawah tanah yang ada.
"Konstruksi bawah tanah biasanya melibatkan peledakan batu dan jika berada di pusat kota, Anda tidak akan dapat menggunakan peledakan," kata Chu Jian, seorang profesor teknik sipil dan lingkungan di Universitas Teknologi Nanyang (NTU). (agn/eks)