Presiden Iran Cabut Batasan Riset dan Pengembangan Nuklir

CNN Indonesia | Kamis, 05/09/2019 12:43 WIB
Presiden Iran Cabut Batasan Riset dan Pengembangan Nuklir Hassan Rouhani memerintahkan pencabutan batas riset dan pengembangan nuklir Iran, langkah yang memperkuat indikasi pengurangan komitmen atas kesepakatan 2015. (Reuters/Danish)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Hassan Rouhani memerintahkan pencabutan semua batasan riset dan pengembangan nuklir Iran pada Rabu (4/9), satu langkah yang dianggap memperkuat indikasi pengurangan komitmen negara tersebut dalam kesepakatan pada 2015 lalu.

"Organisasi energi atom diperintahkan untuk segera memulai apa pun yang dibutuhkan di bidang riset dan pengembangan, abaikan semua komitmen yang pernah ada terkait riset dan pengembangan," ujar Rouhani seperti dilansir AFP.

Rouhani kemudian menjelaskan bahwa dengan keputusan ini, ia memerintahkan "pengembangan di bidang riset dan pengembangan, soal alat sentrifugasi, jenis-jenis alat sentrifugasi baru, dan apa pun yang dibutuhkan untuk pengayaan."
Ketika menyebut pengayaan, Rouhani merujuk pada uranium sebagai bahan baku utama pembuatan senjata nuklir.


Dalam perjanjian yang diteken dengan negara anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa beserta Jerman pada 2015 lalu, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), Iran harus membatasi pengayaan uranium di bawah 3,67 persen.

Sebagai timbal balik, negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran.

Namun, di bawah komando Presiden Donald Trump, AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir itu pada Mei 2018 lalu dan kembali menerapkan sanksi atas Iran.
Iran pun kembali melanjutkan pengayaan uranium dan mengklaim sudah melewati batas 3,67 persen. Meski demikian, angka tersebut masih jauh dari yang dibutuhkan untuk mengembangkan senjata nuklir, yaitu 90 persen.

AS tetap mengancam bakal menjatuhkan sanksi tambahan. Ketegangan hubungan antara kedua negara pun tak terhindarkan, tapi Presiden Donald Trump tetap membuka kemungkinan untuk berdialog dengan Rouhani di sela sidang Majelis Umum PBB pada akhir bulan ini.

Di tengah kisruh ini, negara lain yang masih memegang komitmen JCPOA, seperti Jerman dan Inggris, meminta semua pihak untuk tenang dan mendesak Iran tak melanjutkan pengayaan uranium.

[Gambas:Video CNN]

Prancis juga sempat menawarkan memberikan lini kredit sebesar US$15 miliar hingga akhir tahun jika Iran mau kembali berkomitmen dalam JCPOA.

Menanggapi tawaran tersebut, Iran mengaku mau memenuhi komitmen JCPOA jika mereka mendapatkan jaminan keuntungan US$15 miliar atau setara Rp212,8 triliun dari penjualan minyak.

"Kami akan kembali mengimplementasikan penuh kesepakatan nuklir jika ada jaminan US$15 miliar dalam periode empat bulan," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, Rabu (4/9).

Meski Iran mulai terbuka untuk kembali berkomitmen pada JCPOA, Araqchi menegaskan bahwa bakal ada "ketidaksepahaman yang serius mengenai sejumlah agenda" dalam pembicaraan antara Iran dan negara-negara penandatangan kesepakatan itu ke depannya. (has/has)