Parlemen Inggris Kembali Tolak Usul Pemilu Sela PM Johnson

CNN Indonesia | Selasa, 10/09/2019 14:46 WIB
Parlemen Inggris Kembali Tolak Usul Pemilu Sela PM Johnson Ilustrasi Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson. (Matt Frost/ITV/REX/Shutterstock via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Parlemen Inggris menolak usul pemilihan umum sela yang kembali diajukan Perdana Menteri Boris Johnson. Situasi ini membuat legislatif dan eksekutif saling kunci, dan dikhawatirkan akan mempengaruhi proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) yang diberi tenggat pada 31 Oktober mendatang.

Seperti dilansir AFP, Selasa (10/9), Johnson hanya meraih 293 suara dalam voting yang digelar parlemen. Padahal, untuk bisa menggelar pemilu sela, dia harus mengantongi dukungan 434 anggota legislatif, atau 2/3 dari 650 anggota majelis rendah.


Anggota parlemen juga meminta Johnson untuk mempublikasikan dokumen rahasia tentang kesiapan Inggris menghadapi Brexit tanpa kesepakatan. Sebagian besar anggota parlemen juga menolak usul Brexit tanpa kesepakatan jika gagal mencapai kompromi dengan Uni Eropa.


"Saya tidak akan meminta penundaan lagi," kata Johnson.

Kendati demikian, hal ini menunjukkan pilihan Johnson untuk mencari jalan keluar masalah Brexit semakin sedikit. Sedangkan kesempatan terakhir untuk berunding dengan Uni Eropa terkait Brexit dilakukan dalam rapat pada 17 Oktober mendatang.


Ketua Majelis Rendah Mundur

Dalam sidang kemarin, Ketua Majelis Rendah Inggris, John Bercow, menyatakan bakal mengundurkan diri dalam beberapa pekan mendatang. Dia dikritik mempermainkan aturan oleh para pendukung garis keras Brexit, sehingga membuat prahara baru di sisa waktu yang semakin sedikit.

"Jika majelis memilih untuk pemilihan umum sela, masa kerja saya sebagai ketua majelis dan anggota parlemen akan berakhir sampai masa kerja parlemen berakhir," kata Bercow.

"Jika majelis tidak memilih untuk itu, maka saya akan memutuskan untuk mundur pada 31 Oktober supaya tidak mengganggu dan dengan cara yang demokratis," ujar Bercow.

[Gambas:Video CNN]

Bercow sudah menduduki jabatan itu selama satu dasawarsa. Dia dikenal dengan suara khasnya ketika mengatakan 'Order! Order!' untuk menenangkan anggota parlemen, dan celetukannya yang jenaka.

Bercow juga disebut melakukan modernisasi terhadap norma berbusana di parlemen. Dia memilih tidak menggunakan kostum tradisional dan memutuskan hanya mengenakan gaun sederhana demi memudahkan anggota legislatif perempuan yang sedang hamil atau baru melahirkan.

Di sisi lain, Bercow dikritik karena diduga bersikap bias terhadap para anggota parlemen yang menolak Brexit, dan kerap memaksakan kehendak. (ayp/ayp)