BJ Habibie dan Sejarah Pembebasan Timor Leste

CNN Indonesia | Rabu, 11/09/2019 20:32 WIB
BJ Habibie dan Sejarah Pembebasan Timor Leste Presiden ketiga RI BJ Habibie. (Foto:CNN Indonesia/ Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie tutup usia, Rabu (11/9).

Tokoh berjuluk bapak teknologi itu mengembuskan napas terakhir pada pukul 18.05 WIB di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, di usia 83.

BJ Habibie merupakan sosok negarawan yang sangat dicintai tak hanya oleh rakyat Indonesia, tetapi juga negara tetangga Timor Leste.



Tepat 20 tahun Jajak Pendapat Timor Leste pada (30/8) lalu, Habibie mendapat kehormatan. Habibie diabadikan menjadi nama jembatan di Timor Leste.

Jembatan B.J. Habibie berdiri di Desa Bidau Sant'ana dan dibangun oleh Badan Usaha Milik Negara Timor Leste dengan anggaran 3,9 juta dolar AS.

Tahun 1999 silam, Presiden Habibie kala itu memutuskan melepaskan Timor Timur dari Indonesia.

Dalam buku Detik-Detik yang Menentukan, Habibie mengatakan memerdekakan Timor Timur merupakan jalan yang harus dipilih.

Menurut Habibie, penyelesaian status Timor Timur melalui jalan referendum sesungguhnya sudah bertahun-tahun diajukan berbagai pihak dalam forum internasional.


Alasan mendasar yang disampaikan adalah karena setiap bangsa berhak untuk menentukan nasibnya sendiri.

Setelah 23 tahun bergabung dengan Indonesia, rakyat Timor Timur memilih menentukan jalannya sendiri.

Melalui jajak pendapat pada 30 Agustus 1999 sebanyak 78,5 persen masyarakat Timor Timur menolak tawaran status khusus dengan otonomi luas.

Sesuai ketentuan pasal 6 Perjanjian New York, antara lain disebutkan bahwa apabila rakyat Timor Timur menolak tawaran status khusus dengan otonomi luas, maka pemerintah Indonesia harus mengambil langkah-langkah konstitusional untuk melepaskan Timor Timur secara damai dan terhormat.

[Gambas:Video CNN]

"Seperti telah saya nyatakan dalam pidato pertanggungjawaban betapa pun pahit dan pedihnya kita menyaksikan kekalahan rakyat Timor Timur yang prointegrasi dalam jajak pendapat tersebut, namun kita sebagai bangsa yang besar yang menjunjung tinggi nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945- yang dalam era baru sekarang ini berketetapan hati untuk memajukan demokrasi dan pelaksanaan hak asasi manusia- harus menerima dan menghormati hasil jajak pendapat itu," kata Habibie.


Selanjutnya, kata Habibie, semua mengharapkan melalui jalan ini permasalahan Timor Timur yang sudah sekian lama berlarut-larut dan yang menjadi beban di atas pundak bangsa Indonesia akhirnya dapat diatasi.

Dengan demikian, jelas kiranya bahwa bukanlah Timor Timur atau rakyat Timor Timur yang menjadi beban, tetapi permasalahan Timor Timur di forum-forum internasional.

Kini Habibie telah beristirahat dengan tenang, dan namanya akan terus terukir di Timor Leste. (dea)