Redam Demo, Pemimpin Hong Kong Gelar Dialog Warga Pekan Depan

CNN Indonesia | Selasa, 17/09/2019 16:17 WIB
Redam Demo, Pemimpin Hong Kong Gelar Dialog Warga Pekan Depan Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, akan menggelar sesi dialog dengan masyarakat pekan depan demi menghentikan demonstrasi rusuh selama tiga bulan terakhir. (Reuters/Amr Abdallah Dalsh)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, akan menggelar sesi dialog dengan masyarakat pekan depan demi menghentikan demonstrasi rusuh yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.

Carrie mengatakan sesi dialog itu akan terbuka untuk umum. Setiap warga, tuturnya, dapat mendaftar untuk hadir dalam dialog tersebut.

"Masyarakat Hong Kong telah mengalami akumulasi masalah ekonomi, sosial, bahkan politik yang mengakar. Saya berharap berbagai bentuk dialog ini dapat menjadi landasan bagi kita (pemerintah-warga) untuk berdiskusi," ucap Carrie, Selasa (17/9).
Ia menuturkan berbagai isu akan diangkat dalam dialog tersebut, termasuk masalah perumahan dan tempat tinggal di kota berpenduduk 7,4 juta itu.


Sebagian masyarakat Hong Kong, terutama generasi muda, selama ini merasa frustrasi terkait harga sewa atau beli tempat tinggal yang sangat tinggi.

"Tapi saya harus tekankan di sini, dialog nanti bukan berarti kita harus mengambil tindakan tegas. Menghindari kekerasan yang terjadi di hadapan kita masih menjadi prioritas," kata Carrie seperti dilansir Reuters.
Hong Kong merupakan wilayah bekas jajahan Inggris yang kemudian diserahkan ke China pada 1997 silam. Rentetan unjuk rasa terus mendera wilayah di tenggara China itu dalam beberapa bulan belakangan.

Demonstrasi dipicu oleh pembahasan Rancangan Undang-undang Ekstradisi. Dalam rancangan awal, RUU tersebut memungkinkan tersangka satu kasus di Hong Kong diadili di wilayah lain, termasuk China.

Pembahasan tersebut memicu protes dari masyarakat Hong Kong. Untuk mengakhiri protes tersebut, Carrie mengumumkan resmi membatalkan pembahasan RUU ekstradisi pada minggu ini.

[Gambas:Video CNN]

Namun, upaya tersebut belum memuaskan pengunjuk rasa. Demonstrasi terus berkembang dengan tuntutan akhir, mendesak Carrie Lam mundur. Mereka juga mendesak agar Hong Kong bisa melepaskan diri dari China.

Hampir 1.500 orang ditahan terkait demonstrasi sejak Juni lalu. Unjuk rasa besar-besaran dan sporadis selama ini juga dinilai melemahkan perekonomian Hong Kong, salah satu pusat ekonomi di Asia.

Pedemo bahkan sempat memblokade Bandara Internasional Hong Kong, bandara terpadat kedelapan di dunia, selama dua hari hingga membatalkan seluruh penerbangan dari dan menuju kota itu. (rds/has)