Demonstran Hong Kong Ricuh di Mal

CNN Indonesia | Sabtu, 14/09/2019 19:11 WIB
Demonstran Hong Kong Ricuh di Mal Ilustrasi. (Foto: ISAAC LAWRENCE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perkelahian kembali terjadi di Hong Kong, tepatnya di sebuah mal pada Sabtu (14/9). Pendukung Beijing menggunakan bendera China untuk menyerang lawan di jalan, memperdalam polarisasi di kawasan tersebut setelah aksi demonstrasi terjadi beberapa bulan terakhir.

Mengutip AFP, pusat internasional yang dulunya stabil telah dikejutkan dengan unjuk rasa yang dilakukan selama berminggu-minggu.

Pertikaian semakin panas setelah pendukung pro demokrasi mulai menyanyikan lagu protes secara mendadak. Sementara, pendukung pro Beijing telah mengadakan pertemuan untuk menyanyikan lagu kebangsaan China.


Di distrik Fortress Hill, sekelompok pria bahkan mengibarkan bendera China dengan mengenakan kaos biru seraya mengatakan, "Saya suka polisi Hong Kong,". Sekelompok pria itu juga menyerang orang yang dianggap sebagai demonstran prodemokrasi.


Sejumlah video di media sosial memperlihatkan sekelompok pria itu menyerang korban yang lebih muda. Mereka dipukuli dan ditendang, sedangkan masyarakat yang kebetulan dan menonton memilih untuk melarikan diri.

Pertempuran pun semakin membara antara pendukung pro-China dan prodemokrasi di Amoy Plaza, sebuah pusat perbelanjaan di kawasan lain.

Hal itu terjadi setelah pendukung prodemokrasi tiba di tempat kejadian. Beberapa orang tampak sudah berlumuran darah dan memar.

Polisi dengan perisai dan helm pun kemudian bergegas ke pusat perbelanjaan untuk mengakhiri perkelahian. Sejumlah pendukung muda pro demokrasi ditahan di luar dan di dalam mall oleh polisi.

Hong Kong telah dihancurkan dengan aksi protes selama 100 hari berturut-turut. Gerakan semakin meluas demi penghentian kebebasan dari pemerintahan Beijing.


Di bawah kesepakatan yang ditandatangani dengan Inggris jelang penyerahan kota pada 1997 ke China, Hong Kong diizinkan untuk mempertahankan kebebasannya selama 50 tahun.

Aktivis demokrasi menuduh Beijing mengingkari kesepakatan itu dengan meningkatkan kontrol politik atas wilayah semi otonom.

Aktivis dan analis mengatakan gerakan itu hanya akan berakhir jika beberapa tuntutan pendukung pro demokrasi dipenuhi. Sejumlah tuntutan yang dimaksud, yaitu penyelidikan terhadap polisi dan amnesti untuk 1.400 orang yang ditangkap.

[Gambas:Video CNN] (AFP/asa)