Iran Jerat 3 Turis Australia dengan Sangkaan Spionase

CNN Indonesia | Selasa, 17/09/2019 20:50 WIB
Iran Jerat 3 Turis Australia dengan Sangkaan Spionase Ilustrasi penjara. (Istockphoto/chinaface)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Iran menyatakan menjerat tiga wisatawan asal Australia yang ditangkap dengan delik mata-mata. Juru bicara pengadilan Iran, Gholamhossein Esmaili, menuturkan dua dari tiga warga Negeri Kanguru itu diduga telah mengambil sejumlah gambar di beberapa kawasan militer Iran.

Sementara itu, seorang warga Australia lainnya diduga menjadi mata-mata untuk negara ketiga.


"Dua dari mereka telah mengambil foto-foto di area-area militer dan yang ketiga ditahan karena memata-matai untuk negara ketiga," kata Esmaili seperti dikutip kantor berita semi resmi Iran, Fars, dan dilansir Reuters, Selasa (17/9).


"Pengadilan akan memutuskan apakah orang (yang ditahan atas tuduhan memata-matai) bersalah atau tidak," sambung Esmaili.

Esmaili tidak menjelaskan identitas warga Australia ketiga yang ditahan itu. Dia juga tak merinci kapan aparat Iran menahan ketiganya.

Penangkapan ketiga warga Australia ini diungkap oleh surat kabar Inggris, Times. Koran tersebut menuturkan ketiga warga Australia itu terdiri dari dua perempuan dan seorang pria.


Salah satu perempuan Australia itu, menurut Times, merupakan seorang narablog. Ia dilaporkan tengah berlibur bersama kekasihnya ke Iran.

Sementara itu, seorang WN Australia lainnya yang ditahan diketahui merupakan dosen salah satu universitas di kampung halamannya. Ia juga dikabarkan pernah mengenyam pendidikan di Universitas Cambridge, Inggris.

Ketiga WN Australia itu dilaporkan ditahan di dalam penjara yang sama di Teheran. Seorang warga Inggris bernama Nazanin Zaghari-Ratcliffe, juga dikurung di penjara tersebut sejak 2016 atas tuduhan spionase.

Seorang sumber menuturkan kepada Times bahwa dosen Australia yang ditahan telah diancam 10 tahun penjara, meski belum jelas alasan aparat Iran menahannya.

[Gambas:Video CNN]

Kementerian Luar Negeri Australia menyatakan telah memberikan bantuan konsuler bagi keluarga ketiga warganya tersebut. (rds/ayp)