AS Tolak Menlu Iran Besuk Diplomat yang Kanker di New York

CNN Indonesia | Minggu, 29/09/2019 02:03 WIB
AS Tolak Menlu Iran Besuk Diplomat yang Kanker di New York Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif. (Reuters/Greg Baker)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Amerika Serikat (AS) menolak permintaan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, yang ingin membesuk Duta Besar Iran untuk PBB, Majid Takht Ravanchi, di sebuah rumah sakit di New York.

Duta besar PBB itu dirawat karena penyakit kanker yang dideritanya. Namun, seperi dilansir Reuters, Kemenlu AS menyatakan izin akan diberikan kepada Zarif jika Iran membebaskan salah satu warga Negara Paman Sam yang ditahan di Negeri Para Mullah tersebut.

Pada Juli lalu, AS memang telah memberlakukan pembatasan ketat perjalanan Zarif sebelum kunjungan ke PBB.


Juru bicara misi PBB Iran, Alireza Miryousefi, mengatakan Ravanchi dirawat di rumah sakit tak jauh dari daerah Upper East Side, Manhattan, akibat kanker yang dideritanya. Selain itu, Zarif pun kini sdang berada di New York untuk menghadiri pertemuan tahunan para pemimpin dunia di PBB.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan permintaan Zarif akan dikabulkan jika Iran membebaskan salah satu warga AS yang ditawan. Zarif dan rombongan hanya dibolehkan melakukan perjalanan ke daerah kecil Manhattan, Queens serta akses menuju dan keluar bandara John F Kennedy, New York.

"Iran keliru menahan beberapa warga AS selama bertahun-tahun. Hal itu menyakitkan keluarga dan rekan mereka karena tidak dapat mengunjungi secara bebasl. Kami telah menyampaikan kepada misi Iran bahwa akses perjalanan akan diberikan jika Iran membebaskan warga AS," demikian pernyataan resmi juru bicara Departemen Luar Negeri AS.

[Gambas:Video CNN]
Utusan khusus Kemenlu AS untuk Iran, Brian Hook, pada awal pekan inin mengatakan jika Iran ingin menunjukkan iktikad baik, mereka harus melepas warga AS yang ditahan, termasuk Xiyue Wang. Wang adalah warga negara AS. Ia adalah lulusan Universitas Princeton.

Wang telah ditahan di Iran sejak 2016 silam.



(Reuters/kid)