Toko di Thailand Setop Penggunaan Kantong Plastik Mulai 2020

CNN Indonesia | Selasa, 01/10/2019 03:08 WIB
Toko di Thailand Setop Penggunaan Kantong Plastik Mulai 2020 Ilustrasi kantong plastik. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berbagai toko ritel dan minimarket di Thailand menyatakan bakal berhenti menggunakan kantong plastik untuk konsumen mulai 2020.

Dikutip dari Reuters, Senin (30/9), Menteri Lingkungan Varawuth Silpa-archa menulis dalam akun Facebook miliknya bahwa berbagai perusahaan besar akan berhenti menyediakan kantong plastik sekali pakai, setelah mengikuti program yang diselenggarakan pemerintah.


Di antara berbagai perusahaan yang ikut serta di dalam program tersebut adalah CPALL Pcl, yang mengelola lebih dari 10 ribu gerai 7-Eleven di Thailand, dan perusahaan ritel terbesar, Central Group.


"43 toserba dan minimarket di seluruh negara telah bergabung dalam program untuk memberhentikan pemberian kantong plastik. Kenyamanan akan sedikit terganggu demi memperpanjang umur lingkungan," kata Varawuth.

Varawuth kemudian mengimbau masyarakat untuk beralih menggunakan produk lain pengganti plastik saat berbelanja, misalnya tas belanja yang terbuat dari kain.

Kebijakan tersebut disambut baik oleh organisasi pegiat lingkungan, Greenpeace.

"Ini adalah awal yang baik. Semoga ini bukan hanya latihan petugas humas saja. Tantangan dalam melakukan hal tersebut adalah bagaimana mengukur perkembangan, dan memastikan ukuran tersebut efektif dalam melarang penggunaan kantong plastik," ujar direktur Greenpeace Thailand, Tara Buakamsri.

[Gambas:Video CNN]

Pemerintah Thailand rencananya akan melarang tiga jenis plastik, yaitu plastik mikro (microbeads), segel pada tutup botol, dan plastik jenis oxo-degradable (dapat terurai di permukaan terbuka atau permukaan laut) mulai akhir tahun ini.

Sebelum kebijakan ini diumumkan, sebagian besar toko ritel dan supermarket mulai menerapkan pembatasan penggunaan kantong plastik.

Perusahaan The Mall Group Co. Ltd., pemilik mall Siam Paragon di Bangkok, sudah menerapkan biaya 1 Baht untuk setiap kantong plastik mulai Juli lalu.

Perwakilan perusahaan menyatakan bahwa hal tersebut dilakukan seiring dengan adanya dampak lingkungan yang disebabkan karena penggunaan plastik.


Greenpeace melaporkan bahwa penggunaan sebanyak 75 miliar kantong plastik di Thailand berakhir di tempat sampah. Setengahnya berasal dari berbagai pusat perbelanjaan, supermarket, dan minimarket, sedangkan sisanya berasal dari pasar tradisional dan pedagang kaki lima.

Kantong-kantong plastik tersebut merupakan bagian dari dua juta ton sampah plastik yang diproduksi masyarakat Thailand setiap tahunnya. (fls/ayp)