Putin Bela Trump di Skandal Telepon Berujung Upaya Pemakzulan

CNN Indonesia | Kamis, 03/10/2019 11:10 WIB
Putin Bela Trump di Skandal Telepon Berujung Upaya Pemakzulan Presiden Rusia, Vladimir Putin, dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (AFP PHOTO / SAUL LOEB)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Rusia, Vladimir Putin, menganggap tidak ada yang keliru dalam isi percakapan telepon antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky.

Membela Trump, Putin menyebut percakapan kedua presiden tersebut merupakan sebuah perbincangan yang lumrah dilakukan banyak pemimpin dunia.


"Saya melihat tidak ada yang salah dalam percakapan Presiden Trump dan Presiden Zelensky. Trump meminta pertolongan seorang koleganya untuk menyelidiki kemungkinan dugaan korupsi yang melibatkan mantan pejabat pemerintah," kata Putin di Moskow pada Rabu (2/10).


"Setiap kepala negara pasti akan melakukan hal yang sama. Mereka (oposisi) telah menggunakan berbagai alasan untuk menyerang Presiden Trump. Dan sekarang (alasannya) adalah Ukraina," paparnya menambahkan.

Dalam kesempatan itu, Putin juga mengungkit penyelidikan jaksa khusus Biro Penyelidik Federal (FBI), Robert Mueller, terkait dugaan intervensi Rusia dalam pemilihan umum AS 2016 lalu.

"Dia (Mueller) tidak menemukan bukti bahwa kita berkolusi dengan Trump di masa lalu, tetapi mengatakan ada risiko kami melakukannya di masa depan. Ini akan menjadi lucu jika tidak berubah menjadi sangat menyedihkan," kata Putin seperti dikutip AFP.

Putin bahkan bergurau dia akan mencoba mempengaruhi pemilihan umum AS 2020 mendatang ketika ditanya wartawan apakah Rusia akan berupaya campur tangan dalam pesta demokrasi tersebut.

[Gambas:Video CNN]

"Saya akan memberitahu Anda sebuah rahasia. Ya, kami tentunya akan ikut campur (dalam pemilu AS 2020) tapi jangan beritahu siapa pun," tutur Putin sambil bercanda.

Pernyataan itu diutarakan Putin menanggapi penyelidikan proses pemakzulan Trump yang mulai dibuka oleh fraksi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan AS.

Proses pemakzulan itu dibuka setelah Trump dituduh menyalahgunakan wewenang sebagai presiden untuk menghalangi langkah eks wakil presiden AS, Joe Biden, bersaing di pemilihan presiden pada 2020.

Trump dituduh menekan Zelensky untuk menyelidiki dugaan korupsi yang dilakukan putra Biden, Hunter Biden, yang merupakan anggota komisaris perusahaan energi Ukraina, Burisma.

Kasus dugaan korupsi itu diduga dibuat-buat lantaran Trump tidak memiliki bukti awal.


Proses penyelidikan untuk pemakzulan ini berawal dari laporan seorang whistleblower yang bekerja sebagai agen intelijen AS. Dia melaporkan hasil sadapan telepon antara Trump dan Zelensky pada 25 Juli lalu.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, Trump dilaporkan sudah delapan kali menghubungi Zelensky untuk mendesak agar permintaannya dikabulkan sejak sekitar Mei lalu.

Simpulan transkrip percakapan yang dirilis Gedung Putih menunjukkan Trump mengatakan bahwa Jaksa Agung AS, Bill Barr, dan kuasa hukumnya, Rudy Giuliani, akan menghubungi Zelensky untuk membicarakan penyelidikan aktivitas bisnis Hunter Biden di Ukraina. (rds/ayp)