China Parade Militer, AS Uji Coba Rudal Terbaru di Pasifik

CNN Indonesia | Jumat, 04/10/2019 23:07 WIB
China Parade Militer, AS Uji Coba Rudal Terbaru di Pasifik Ilustrasi. (Olga MALTSEVA / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Angkatan Laut Amerika Serikat melakukan uji coba rudal balistik terbaru di perairan Pasifik, bertepatan dengan parade militer terbesar China yang digelar pada hari jadi ke-70 RRC, Selasa (1/10) lalu.

CNN melaporkan pada Jumat (4/10), kapal perang USS Gabrielle Giffords meluncurkan Naval Strike Missile (NSM) yang terbang lebih dari 160 kilometer ke arah Samudera Pasifik. Peluncuran ini merupakan bagian dari pelatihan militer bernama SINKEX.

SINKEX juga meluncurkan rudal dari pesawat Angkatan Laut lainnya, bom dijatuhkan dari pesawat Angkatan Udara B-52, dan dua fregat dari rudal Harpoon yang diluncurkan Angkatan Laut Singapura.



"Latihan ini memberi peluang penting untuk pelatihan di laut dengan kelengkapan senjata dan kondisi yang realistis. Pelatihan gabungan yang kompleks dengan rekan kami dari Singapura seperti ini sangat berharga," ujar Kapten Angkatan Laut AS, Matthew Jerbi.

Kolonel Angkatan Laut Singapura, Lim Yu Chuan menanggapi bahwa latihan tersebut sangat berarti bagi kedua angkatan laut untuk memperkuat kerja sama dan interoperabilitas.

[Gambas:Video CNN]

"Dengan ruang latihan luas yang tersedia di perairan Guam, latihan ini juga memberikan peluang latihan berkualitas baik bagi Angkatan Laut Singapura (RSN)," kata Lim.

Kapal USS Gabrielle Giffords merupakan kapal tempur pesisir (LCS) pertama yang digunakan untuk meluncurkan NSM, di mana hal tersebut dapat mengembangkan kekuatan militer AS seiring dengan China yang mulai menunjukkan kekuatan militernya.


Menurut mantan kapten Angkatan Laut AS sekaligus instruktur Universitas Pasifik Hawaii, Carl Schuster, peluncuran rudal tersebut dapat mengubah peluang AS di tengah keuntungan yang dimiliki China.

"Pentagon sedang membangun kekuatan militer yang dapat beroperasi dengan basis yang lebih berkelanjutan dan punya peluang lebih baik untuk bertarung dan bertahan hidup terhadap keterbatasan akses yang dibuat tentara China," ujar analis senior pertahanan Timothy Heath.

Sebelumnya tentara China telah melakukan salah satu parade militer terbesar sepanjang sejarah di lapangan Tiananmen pada perayaan Hari Kemerdekaan, Selasa (1/10) kemarin. Di lapangan bersejarah itu, 15 ribu tentara berarak memamerkan 580 alutsista mutakhir sementara 160 pesawat menderu di udara.


Ketegangan yang terjadi antara AS-China sebagian besar berfokus pada Laut China Selatan (LCS) yang merupakan salah satu wilayah paling banyak disengketakan.

Sebagian negara telah mengklaim beberapa wilayah tersebut, tetapi klaim pemerintah China menjadi paling kuat dan ekspansif karena besarnya wilayah yang dikuasai. (fls/dea)