Korut Ancam Tak Tinggal Diam jika DK PBB Jatuhkan Sanksi Baru

CNN Indonesia | Selasa, 08/10/2019 11:57 WIB
Korut Ancam Tak Tinggal Diam jika DK PBB Jatuhkan Sanksi Baru Ilustrasi Bendera Korea Utara. (John Pavelka/Wikimedia Commons)
Jakarta, CNN Indonesia -- Korea Utara memperingatkan tidak akan duduk diam jika ada upaya dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menerapkan langkah atau sanksi baru merespons uji coba rudal yang dilakukannya pada pekan lalu.

Duta Besar Korea Utara untuk PBB, Kim Song, mengatakan pembahasan isu uji coba rudal negaranya di DK PBB hanya akan "semakin mendesak keinginan" Pyongyang untuk mempertahankan kedaulatan.


Pernyataan itu diutarakan Kim Song menyusul rencana DK PBB menggelar rapat tertutup DK PBB di New York pada Selasa besok untuk membahas uji coba rudal Korut. 


Rapat itu digagas oleh Inggris, Prancis, dan Jerman. Ketiga negara Eropa itu menganggap tes peluru kendali yang dianggap "pelanggaran serius" terhadap resolusi PBB.

Kim Song mendesak Inggris, Prancis, dan Jerman untuk mempertimbangkan kembali langkah mereka tersebut.

[Gambas:Video CNN]

"Mereka harus tahu bahwa kami tidak akan pernah bisa diam dalam setiap upaya yang ingin mempermasalahkan langkah-langkah pertahanan kami," kata Kim Song seperti dikutip AFP.

Pada Kamis pekan lalu, Korut mengklaim sukses menguji coba rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam.

Uji coba rudal Pukguksong-3 itu dilakukan di perairan lepas pantai timur dan merupakan peluncuran pertama sejak tiga tahun terakhir.


Rudal Pukguksong atau Polaris merupakan rudal balistik berbahan bakar padat yang dimiliki Korut. Berdasarkan laporan militer Korea Selatan, rudal tersebut ditembakkan sejauh 450 kilometer dengan ketinggian maksimum hingga 918 kilometer.

Peluncuran ini sempat memicu protes dari Jepang karena rudal yang diluncurkan masuk ke dalam wilayah ZEE untuk pertama kalinya sejak November 2017 silam.

Peluncuran itu dilakukan menjelang perundingan denuklirisasi lanjutan dengan AS. Beberapa ahli menduga hal ini menandakan Korut bakal melanjutkan peluncuran rudal jika perundingan itu tidak menghasilkan kesepakatan apapun hingga Desember mendatang.


Hingga kini, Korut masih menjadi subjek tiga sanksi ekonomi PBB karena aktivitas rudal dan nuklirnya. Sejak 2006 lalu, Pyongyang telah melakukan enam kali uji coba nuklir. Yang terbaru, Korut melakukan uji coba nuklir pada 3 September 2017 lalu. (rds/dea)