Kapal Tanker Iran Dihantam Rudal, Minyak Tumpah ke Laut Merah

CNN Indonesia | Jumat, 11/10/2019 16:15 WIB
Kapal Tanker Iran Dihantam Rudal, Minyak Tumpah ke Laut Merah Ilustrasi. (Morteza Akhoondi/Tasnim News Agency via AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Serangan rudal dilaporkan menghantam kapal tanker milik Iran di lepas pantai Jeddah, Arab Saudi, Jumat (11/10)

Dikutip AFP, Perusahaan Minyak Nasional Iran (NITC) dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa lambung kapal mereka dihantam oleh dua roket. Namun, NITC menyatakan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

"Semua awak kapal selamat dan kondisi kapal stabil," kata NITC. Saat ini tim mekanik sedang berusaha memperbaiki kerusakan kapal.



Perusahaan itu juga membantah laporan yang menyebut ledakan memicu kebakaran di kapal. "Tidak ada api di atas kapal dan kapal itu benar-benar stabil."

Televisi pemerintah Iran mengatakan serangan tersebut merusak dua ruang penyimpanan kapal, sehingga minyak tumpah ke Laut Merah.

Menurut Associated Press, pejabat Arab Saudi tidak segera menanggapi mengenai serangan ini. Mereka menolak berkomentar.

Juru bicara Armada Angkatan Laut ke-5 Amerika Serikat yang mengawasi Timur Tengah Letnan Pete Pagano, mengatakan pihak berwenang sudah mendapat laporan tentang insiden ini, tetapi dia menolak berkomentar lebih lanjut.

Serangan ini terjadi setelah AS menuduh Iran berada di balik penyerangan kapal tanker di Selat Hormuz beberapa bulan terakhir, namun hal itu sudah dibantah Teheran.


Ketegangan antara Iran dan AS mulai meningkat sejak awal tahun ini, terutama setelah Presiden Rouhani mengancam bakal melanggar ketentuan dalam perjanjian nuklir 2015 lalu, JCPOA, jika negara-negara terkait tak membantu Teheran di tengah sanksi Washington.

Perjanjian yang diteken oleh negara anggota tetap DK PBB beserta Jerman itu mewajibkan Iran membatasi pengayaan uranium hingga 3,67 persen, jauh dari keperluan mengembangkan senjata nuklir yaitu 90 persen.

Sebagai timbal balik, negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran.

Namun, di bawah komando Presiden Donald Trump, AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir itu pada Mei 2018 lalu dan kembali menerapkan sanksi atas Iran.


Belum reda permasalahan nuklir ini, muncul lagi perseteruan baru antara kedua negara ketika AS menuding Iran sebagai dalang di balik serangan drone di kilang minyak terbesar di Arab Saudi.

Tak lama setelah serangan yang memangkas 5 persen produksi minyak dunia tersebut, kelompok pemberontak di Yaman, Houthi, langsung mengklaim bertanggung jawab. Namun, AS mengklaim punya bukti yang menunjukkan serangan itu tak dilakukan dari Yaman, melainkan Iran. (dea)