"Agresi Turki menggunakan semua senjata yang tersedia terhadap Ras al-Ain," demikian pernyataan Kurdi yang dikutip AFP.
Mereka menyatakan bahwa pasukan Presiden Recep Tayyip Erdogan mulai menghalalkan penggunaan segala jenis senjata karena tidak menyangka Kurdi dapat melakukan perlawanan sengit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Syrian Observatory for Human Rights, Rami Abdel Rahman, mengakui ada peningkatan jumlah luka bakar dalam pertempuran di daerah Ras al-ain selama dua hari belakangan.
Namun, kelompok pemantau tersebut belum dapat mengonfirmasi penyebab luka bakar tersebut, senjata terlarang atau bukan.
"Kami mendesak organisasi internasional untuk mengirimkan tim guna menyelidiki sejumlah luka akibat serangan. Fasilitas medis di Suriah sangat kekurangan tim ahli," kata juru bicara SDF.
Turki mulai melakukan gempuran ke utara Suriah untuk mengusir pasukan Kurdi, kelompok yang mereka anggap sebagai teroris. Selama ini, kaum Kurdi memang terus menyerukan separatisme di Turki.
Kurdi sendiri selama ini bekerja sama dengan pasukan Amerika Serikat untuk menggempur ISIS di Suriah. Namun, Turki tetap melakukan gempuran setelah dilaporkan mendapatkan "lampu hijau" dari Presiden Donald Trump.
[Gambas:Video CNN]
Tak lama setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan mengumumkan rencana gempuran ini pada pekan lalu, Trump pun menarik pasukan AS dari wilayah Kurdi dengan dalih menghindari korban jatuh dari pihaknya.
Pasukan Kurdi pun merasa AS mengkhianati mereka. Ketika dunia mulai mengkritik Turki, Trump membantah ia memberikan lampu hijau.
Trump lantas mengutus Wakil Presiden AS, Mike Pence, dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo untuk membujuk agar Turki mau melakukan gencatan senjata di Suriah.
Namun, Erdogan menegaskan bahwa Turki tidak akan mendeklarasikan gencatan senjata selama masih ada ancaman terorisme dari Kurdi. (has)