KILAS INTERNASIONAL

Anggota ISIS di Suriah Kabur Sampai Vonis Separatis Catalonia

CNN Indonesia | Selasa, 15/10/2019 07:01 WIB
Anggota ISIS di Suriah Kabur Sampai Vonis Separatis Catalonia Ilustrasi keluarga milisi ISIS di Suriah. (Fadel SENNA / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah peristiwa terjadi di berbagai belahan dunia pada Senin (14/10) kemarin. Mulai dari pengikut ISIS yang ditahan pasukan Kurdi kabur sampai vonis tokoh separatis Catalonia. Semua dirangkum CNNIndonesia.com dalam kilas internasional.


1. Ratusan Pengikut ISIS Kabur Akibat Konflik Turki-Kurdi

Kelompok milisi Kurdi melaporkan sedikitnya 800 anggota keluarga milisi asing Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) kabur dari kamp-kamp tahanan di utara Suriah. Penyebabnya adalah penjagaan minim akibat pasukan Kurdi saat ini tengah fokus menahan serangan militer Turki.


Milisi Kurdi yang menguasai wilayah di utara Suriah menuturkan kamp penahanan Ain Issa saat ini tanpa penjagaan. Mereka menyatakan 785 keluarga milisi ISIS yang selama ini ditahan telah kabur.

Menurut pernyataan milisi Kurdi, ratusan tahanan ISIS itu kabur akibat serangan militer Turki di dekat kamp Ain Issa.

[Gambas:Video CNN]


Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah mengkonfirmasi ada sekitar 100 perempuan asing dan anak-anak yang merupakan anggota keluarga milisi ISIS kabur dari kamp Ain Issa.

Berdasarkan data, dalam kurun waktu yang sama sedikitnya 12 ribu milisi ISIS dari 54 negara ditahan di sejumlah penjara Kurdi yang tersebar di utara Suriah.

Dari 12 ribu tahanan ISIS tersebut, 8.000 orang di antaranya merupakan anak-anak dan 4.000 lainnya merupakan perempuan.


2. Terjerat Kasus Narkoba Sitaan, Kepala Polisi Filipina Mundur

Kepala Kepolisian Nasional Filipina (PNP), Jenderal Oscar Albayalde, menyatakan mengundurkan diri karena diduga melanggar hukum. Dia tersandung kasus penjualan narkotika hasil sitaan yang dilakukan anak buahnya lima tahun lalu.

Associated Press melaporkan, Albayalde memutuskan mundur tiga pekan sebelum pensiun pada awal November mendatang. Keputusannya telah diterima Sekretaris Pertahanan, Eduardo Ano, pada akhir pekan lalu.

Albayalde berkeras dia tidak bersalah dan tidak pernah dihukum dalam kasus tersebut.

Sebelumnya Albayalde dituduh melindungi anggotanya yang terlibat dalam kasus penjualan narkoba sitaan, ketika menjabat sebagai kepala kepolisian tingkat provinsi pada 2013 silam.


3. Xi Jinping Ancam Pihak yang Ingin Memecah China Akan Binasa

Presiden China, Xi Jinping, memperingatkan seluruh pihak yang ingin berupaya memecah-belah negaranya akan hancur berkeping-keping.

Peringatan itu diutarakan Xi saat berkunjung ke Nepal, dan ketika Hong Kong masih didera krisis politik terparah akibat demonstrasi yang telah berlangsung selama empat bulan terakhir.

China menuding "kekuatan asing" menyulut demonstrasi di Hong Kong selama ini yang dipicu oleh protes warga terhadap Rancangan Undang-Undang Ekstradisi. RUU itu memungkinkan aparat Hong Kong mengekstradisi seluruh tahanan ke China, sebuah langkah yang dinilai warga Hong Kong semakin membungkam kebebasan.

[Gambas:Video CNN]

Dikutip AFP, Senin (14/10), ancaman Xi juga terlontar ketika hubungan China dengan Taiwan yang terus berupaya memerdekakan diri semakin panas.

Taiwan telah memisahkan diri dari China sejak perang sipil pada 1949 lalu. Namun, China memandang Taiwan masih sebagai wilayah kedaulatannya dalam kebijakan "Satu China".


4. MA Spanyol Vonis Bersalah 12 Tokoh Separatis Catalonia

Mahkamah Agung Spanyol menjatuhkan putusan bersalah terhadap 12 mantan politikus dan aktivis kemerdekaan Catalonia, yang mendeklarasikan kemerdekaan wilayah itu pada dua tahun lalu. Hukuman yang dijatuhkan bervariasi.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (14/10), hakim agung Spanyol menjatuhkan vonis 13 tahun penjara kepada mantan Wakil Presiden Catalonia, Oriol Junqueras. Dia terbukti bersalah melakukan makar dan menyalahgunakan dana masyarakat.

Sedangkan Ketua Parlemen Catalonia, Carme Forcadell, dijatuhi vonis 11,5 tahun penjara. Lalu mantan anggota kabinet Catalonia, Joaquim Forn and Josep Rull, masing-masing diganjar hukuman 10,5 tahun penjara.

Sedangkan dua aktivis pro kemerdekaan Catalonia, Jordi Sánchez and Jordi Cuixart, masing-masing divonis sembilan tahun penjara.

Sedangkan tiga mantan anggota kabinet Catalonia, Santiago Vila, Meritxell Borràs dan Carles Mundó, divonis denda karena terbukti mengganggu ketertiban umum.

Keputusan Mahkamah Agung Spanyol menandai babak baru dalam perjuangan kemerdekaan Catalonia. Pemerintah Catalonia usai jajak pendapat pada 1 Oktober 2017 mendeklarasikan menjadi negara merdeka, dan ditentang oleh Spanyol. (ayp/ayp)