Nelayan Nyaris Pingsan Bakar Karung Berisi Sabu Selundupan

CNN Indonesia | Selasa, 22/10/2019 05:46 WIB
Nelayan Nyaris Pingsan Bakar Karung Berisi Sabu Selundupan Ilustrasi sabu. (Istockphoto/Sergii_Trofymchuk)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nelayan Myanmar menemukan 26 karung yang terapung di tengah laut yang ternyata isinya adalah metamfetamin atau sabu. Namun, mereka sempat menduga narkoba itu adalah bahan baku deodoran.

Seperti dilansir AFP, Senin (21/10), puluhan karung berisi sabu itu ditemukan pada Minggu kemarin oleh nelayan setempat di Laut Andaman dekat wilayah pesisir Ayeryawady. Jumlahnya ditaksir sekitar US$20 juta (sekitar Rp281 miliar).


Setiap karung dibungkus plastik dan dilabeli teh hijau asal China. Trik ini dianggap sudah lazim dilakukan oleh sindikat narkoba setempat untuk mengirim sabu ke Jepang, Korea Selatan, hingga Australia.


Menurut seorang perwakilan Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), Zaw Win, menyatakan nelayan setempat tidak pernah tahu wujud sabu. Mulanya mereka mengira benda itu adalah bahan baku deodoran, yakni potassium alum.

"Seumur hidup saya dan orang tua, kami tidak pernah melihat narkoba terapung di laut. Jadi mereka membakarnya, dan beberapa dari mereka hampir pingsan setelah menghirup uapnya," kata Zaw Win.

Menurut Zaw Win, berat seluruh karung yang berisi sabu yang berhasil dibawa ke darat mencapai 291 kilogram.

[Gambas:Video CNN]

Akhirnya mereka melaporkan temuan itu kepada polisi setempat.

Myanmar diduga menjadi salah satu lokasi produksi sabu. Kebanyakan pabrik sabu berada di Negara Bagian Shan dan berada di kawasan pedalaman yang dikelilingi pegunungan.

Sabu itu diselundupkan melalui 'jalan tikus' menuju Laos, Thailand, dan Kamboja.

Pada Maret lalu, aparat Myanmar berhasil menyita 1,7 ton sabu padat yang ditaksir bernilai US$29 juta (sekitar Rp408 miliar). Mereka mengklaim itu adalah hasil sitaan terbesar tahun ini.

Menurut hasil kajian Kantor Urusan Narkoba dan Kejahatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNODC), diperkirakan sindikat kejahatan di seluruh Asia Tenggara mendapat keuntungan hingga US$60 miliar setiap tahun dari penjualan narkoba.


Jejak mereka sulit dilacak akibat jalur penyelundupan yang sulit dilacak dan menyembunyikan duit melalui operasi pencucian uang yang rumit. (ayp/ayp)