Longsor di Myanmar, 22 Orang Tewas dan Ratusan Hilang

CNN Indonesia | Sabtu, 10/08/2019 18:35 WIB
Longsor di Myanmar, 22 Orang Tewas dan Ratusan Hilang Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Pilar Olivares)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hujan monsun yang menghantam sebuah desa di bagian timur Myanmar dilaporkan memicu longsor. Akibat bencana ini dilaporkan 22 orang meninggal dunia.

Petugas keadaan darurat saat ini masih meneruskan pencarian korban yang dikhawatirkan hilang. Bencana ini dilaporkan menyapu bersih 16 rumah dan sebuah biara.

Tanah di sekitar lereng bukit dilaporkan gugur akibat banjir lumpur yang menerjang desa Ye Pyar Kone di negara bagian Mon pada Jumat (9/8).


"Sampai saat ini kami telah menemukan 22 mayat dan 47 orang yang terluka," kata administrator lokal, Myo Min Tun dilansir AFP, Sabtu (10/8).

Lebih dari 100 orang diyakini masih hilang. Sementara itu, foto udara menunjukkan kondisi puing-puing atap rumah yang berserakan di sekitar lokasi longsor lumpur.

Htay Htay Win (32) mengaku hingga saat ini kedua anak dan lima kerabatnya masih belum ditemukan.

"Saya dengar suara bising yang besar dan kemudian melihat rumah saya diterjang [longsor] lumpur," kata dia sambil menangis. 

Sementara itu tim penyelamat mulai mengurus jenazah yang ditemukan untuk dikumpulkan dan diidentifikasi oleh keluarga. Di samping itu, petugas juga mulai membuka akses jalan dari Yangon ke Mawlamynie yang terkubur lumpur hingga sedalam 1,8 meter.

Proses evakuasi masih terkendala cuaca berupa hujan deras yang terus menghantam Myanmar. Warga pesisir pantai diminta waspada air pasang di tengah cuaca buruk.

Lembaga Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan sekitar 89 ribu orang telah mengungsi lantaran tempat tinggalnya dihantam banjir dalam beberapa pekan terakhir. Kendati demikian, ada sejumlah warga yang dilaporkan mulai kembali ke tempat tinggalnya.

Akan tetapi, pengaruh militer Myanmar masih mendominasi negara mayoritas Buddha itu. Mereka memegang seperempat kursi di parlemen dan mengendalikan tiga kementerian. Cengkeraman mereka pada tampuk kekuasaan semakin kuat meskipun sudah terjadi reformasi politik yang dimulai pada 2011.

[Gambas:Video CNN] (ani/evn)