Iran Menentang Niat Turki Buat Pos Pantau Militer di Suriah

CNN Indonesia | Senin, 21/10/2019 20:18 WIB
Iran Menentang Niat Turki Buat Pos Pantau Militer di Suriah Ilustrasi pasukan kavaleri Turki di Suriah. (Anadolu/Cem Genco)
Jakarta, CNN Indonesia -- Iran menganggap rencana Turki menempatkan pangkalan militer di Suriah merupakan bentuk agresi terhadap negara lain.

Teheran mengecam segala upaya Ankara untuk menempatkan tentara secara permanen di Suriah, menyusul serangan pasukan terhadap milisi Kurdi di utara negara tersebut.
"Langkah seperti itu dilihat Iran merupakan agresi terhadap kedaulatan nasional dan teritorial sebuah negara merdeka. Langkah itu akan mendapat penentangan dari Iran dan negara lain," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Mousavi, dalam jumpa pers di Teheran pada Senin (21/10).

Iran adalah salah satu sekutu Presiden Suriah, Bashar al-Assad, yang ikut membantu berperang melawan kelompok pemberontak dan Negara Islam (ISIS). Iran menerjunkan pasukan dan persenjataan dalam perang di negara itu.


Menurut Mousavi, Turki bisa mendirikan pangkalan militer dan melakukan apa saja selama itu semua berada di dalam wilayah teritorial dan perbatasannya.

"Tetapi jika yang Anda maksud adalah mendirikan pangkalan militer Turki di Suriah, ini tidak bisa diterima," paparnya menambahkan.

[Gambas:Video CNN]

Dikutip AFP, pernyataan Iran muncul setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan menuturkan negaranya berencana membentuk 12 pos pantau militer di Suriah.

Keberatan itu diutarakan setelah mempertegas bahwa Turki akan memulai kembali operasi militer terhadap pasukan Kurdi di utara Suriah setelah sempat ditunda.

Turki mulai menyerbu wilayah utara Suriah yang selama ini dikuasai milisi Kurdi sejak 9 Oktober lalu. Hal itu dilakukan setelah Amerika Serikat mengumumkan menarik pasukannya di wilayah itu.

Penarikan pasukan tersebut dinilai memberi jalan bagi Turki untuk menyerang Kurdi, sekutu AS dalam perang melawan ISIS yang dianggap sebagai kelompok teroris.

Iran telah berulang kali menyerukan gencatan senjata Turki di utara Suriah.

Gencatan senjata itu berlaku dengan perantaraan AS. Turki akhirnya mau menahan diri dan memberikan waktu bagi pasukan Kurdi untuk keluar dari daerah penyangga yang ingin dibuat Turki di sepanjang perbatasan dengan Suriah.


Erdogan mengusulkan zona penyangga yang ingin dibuat tersebut akan memiliki kedalaman 32 kilometer dengan panjang 44 kilometer. Ia menuturkan zona tersebut akan dipantau oleh Turki.

Meski begitu, Erdogan menegaskan pasukannya tak berniat untuk menetap di sana.

"Itu tidak mungkin," kata Erdogan. (rds/ayp)