ANALISIS

AS Tarik Serdadu dan Jalan Mulus Putin di Suriah

CNN Indonesia | Selasa, 22/10/2019 08:58 WIB
AS Tarik Serdadu dan Jalan Mulus Putin di Suriah Ilustrasi konflik di Suriah. (AP Photo/Lefteris Pitarakis)
Jakarta, CNN Indonesia -- Konflik antara milisi Kurdi dan Turki di wilayah perbatasan Suriah menjadi babak baru konflik di kawasan Timur Tengah.

Selain dianggap mengkhianati pasukan Kurdi yang merupakan sekutu lama Amerika Serikat, keputusan Presiden Donald Trump menarik pasukan dari utara Suriah dianggap semakin memuluskan jalan bagi Rusia untuk memperkuat pengaruhnya di negara itu dan kawasan Timur Tengah.

"Apa yang terjadi sekarang ibarat ikatan yang sangat rumit dilepaskan. Ini hadiah yang tak terduga bagi Putin," kata ahli politik Timur Tengah dari Institute of Europe of the Russian Academy of Sciences di Moskow, Aleksandr Shumilin.


Selama ini, perang sipil di Suriah memang dinilai menjadi perang unjuk kekuatan antara AS dan Rusia. AS mendukung pemberontak yang melawan Presiden Bashar al-Assad dan Rusia adalah sekutu utama Assad.


Kedua musuh bebuyutan sejak Perang Dingin itu masih berebut pengaruh di di Timur Tengah. Namun, usaha militer AS sejak 2014 di Suriah sirna begitu saja selepas Trump menarik pasukan dari timur laut perbatasan Suriah-Turki, hingga membuat pasukan Kurdi kecewa karena mereka semakin rentan diserang.

Milisi Kurdi akhirnya terpaksa meminta perlindungan Suriah dari invasi Turki yang menganggap mereka teroris. Keadaan ini, kata Shumilin, membuat Rusia berada di atas angin.

Peluang Assad untuk merebut kembali seluruh wilayah Suriah dari tangan pemberontak semakin besar. Sementara itu, momen ini juga memperkuat posisi Rusia di Timur Tengah.

Trump saat ini terlihat kehilangan selera untuk mempertahankan kiprah AS sebagai 'polisi dunia' di Timur Tengah. Hal ini terlihat dengan kebijakan penarikan pasukan. Namun, posisi mereka soal dukungan kepada Israel tetap tidak berubah.

Di sisi lain, Presiden Rusia, Vladimir Putin, melihat peluang ini untuk menggantikan peran AS di kawasan itu.

Meski begitu, belum jelas apakah Putin berencana mempertahankan pasukannya di Suriah tanpa batas waktu yang jelas.

[Gambas:Video CNN]

"Jadi memang keberhasilan paling signifikan Rusia di Suriah belum tercapai atas hasil dari upaya Moskow sendiri. Keberhasilan itu jatuh begitu saja kepada Putin karena perilaku aneh negara Barat seperti AS dan Turki," tutur Shumilin seperti dikutip dari New York Times, Senin (21/10).


Kemenangan Pendek Erdogan

Selain menjadi kado indah bagi Rusia, penarikan pasukan AS dari utara Suriah juga bisa berarti perlambang kemenangan bagi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Sikapnya untuk tetap menyerang Kurdi di utara Suriah dinilai meningkatkan popularitasnya di dalam negeri. Apalagi dia bakal menghadapi pemilihan presiden tidak lama lagi.

Turki telah lama berupaya untuk menghancurkan pasukan Kurdi yang dinilai mengancam keamanan nasional negara. Berkat keputusan Trump, Erdogan bisa leluasa menginvasi Kurdi meski banyak pihak yang khawatir bahwa kekacauan yang terjadi antara kedua belah pihak bisa membangkitkan kelompok teroris ISIS di kawasan itu.


"Ini merupakan kemenangan Presiden Erdogan. Kemenangan itu dipertegas secara tertulis oleh Gedung Putih yang menerima kendali Turki atas wilayah di utara Suriah," kata Direktur Firma Manajemen Risiko Verisk Maplecroft, Anthony Skinner, seperti dikutip AFP. (rds/ayp)